Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

15 July 2019

Hari Pertama Sekolah

Sorai bangun pagi dengan agak drama dan sedikit derai air mata, "ga mau sekolah Bu, mau di rumah aja". As expected. Anak ibu yang highly sensitive ini butuh waktu untuk masuk dan merasa nyaman di lingkungan baru. Persis emaknye. Alhamdulillah Ibu sedang dikaruniai mode agak solehah, ga pake marah-marah.

Setelah photo session yang tentu saja ga berhasil karena anaknya manyun, berangkatlah Sorai dianter sama Bapaknya. Ibu di rumah nemenin Ade sambil nyiapin sarapan terus yoga (ciee, padahal cuma 10 menit). Hari pertama ini masih sampe jam 9.30 aja, jadi agak reugreug untuk ga nemenin. Rencananya jam 9-an aja berangkat jemput dari rumah, karena sekolahnya 10 menitan aja dari rumah.

Namun rupanya, Bapaknya pulang dan memberitakan bahwa anaknya ga mau dipegang sama Bu Guru, nangis pas ditinggal pergi dan sempet mimisan. Tentu saja ibu langsung gedabrukan siap2 ke sekolah. Ustadzah ga sampe kirim pesan via WA berarti masih terkendali sih, tapi tetep aja ga tenang. 

Sampe sekolah, selesai ngurusin administrasi, Ibu duduk di mesjid yang tepat di bawah kelasnya Sorai. Jadi sekolahnya itu bangunannya nempel sama mesjid. Kelasnya Sorai kebetulan pas di atasnya mesjid. 

Kondisi hari pertama sekolah di TK A ternyata cukup ganas ya, teriakan dan tangisan histeris membahana dimana-mana. Ibu langsung bersyukur Allah nggak mengabulkan keinginan yang dulu sempet terlintas untuk jadi guru TK. Cukupklah Ibu jadi guru TL. Ngadepin mahasiswa aja masih suka nggak sabaran.

Di sisi lain, Ibu juga khawatir kondisi Sorai. Berisik di rumah yang kata Ibu suka bikin pusing, ternyata ga ada apa-apanya dibanding berisiknya anak-anak usia TK yang sebagiannya baru pertama kali jauh dari ibunya. Jeritan anak-anak, masih ditambah teriakan guru-guru manggil nama anak yang melakukan hal berbahaya. Ibu khawatir Sorai kaget atau agak tertekan. Sebagai manusia yang sama-sama wired sebagai highly sensitive, Ibu bisa ngebayangin yang dihadapi Sorai ini stimulasi level tinggi. 

Sambil duduk, Ibu kembali berdoa, doa yang sama dengan yang dirapalkan ketika usap-usap kepala si Anak Langit sebelum bobo di malam sebelumnya. Ibu mohon penjagaan terbaik dari Allah untuk anak-anak ibu, mohon pendidikan terbaik. Mohon agar Sorai ditenangkan hatinya, mohon agar Sorai bisa seneng di sekolahnya. Mohon agar Allah meridhai pilihan ini, sebagai ikhtiar dan langkah awal untuk Sorai belajar ilmu-ilmu-Nya.

Jam di mesjid akhirnya nunjukin angka 9:30, anak-anak mulai turun. Ibu keluar mesjid, nunggu di bawah tangga. Sorai turun, terus senyum waktu liat ibu. Habis peluk, walaupun kepo maksimal, ibu belum berani nanya gimana sekolahnya karena khawatir Sorai masih overwhelmed dengan pengalaman barunya. Ternyata testimoninya muncul sendiri, "Tadi seru, Ibu! Abang main kereta-keretaan, panjang banget.". 
Ngek. Ibu mah dikasih kalimat segitu aja udah pengen cirambay. 

Sorai lanjut cerita, ada anak yang dorong-dorong dan pukul anak lain, terus langsung dilarang sama ustadzah. Habis itu main perosotan. Bekal makannya habis.
"Sekolahnya seru?"
"Seru!"
Alhamdulillah nuhuuun ya Allah..

"Besok berangkatnya jangan nangis lagi ya Bang?"
(anaknya diem dulu) "Tadi abang nangis karena sedih sedikit Bu"
Ah, Ibu baru sadar mungkin permintaannya masih terlalu besar. Besok kita minta lagi sama Allah supaya sekolahnya menyenangkan dan ilmunya berkah dan bermanfaat ya Nak. Besoknya lagi juga sampe seterusnya.

Hari ini Abang keren. Ibu bangga sama Abang. Papa sama Ade juga mesti deh.
Alhamdulillahi bi ni'matihi wa tatimush shalihat..



10 March 2017

Sepatu Putih

Sore itu Aa ada ngajar sampe menjelang maghrib, saya pulang duluan pake Gojek. Untung masih ada abang-abang yang operasi di tengah marak protes dari supir angkot dan supir taksi.

Ojek terhenti di lampu merah perempatan Jl. Cokelat, ada seorang ibu sama anaknya. Ibunya masih muda, usia sekitar pertengahan 20 tahunan; anaknya sekitar usia 6 tahunan. Mereka pemulung, anaknya bawa 1 karung hasil memulung yang hampir-hampir lebih besar dari badannya sendiri, sementara ibunya bawa 2 karung. Berat nggak ya? Saya bertanya sendiri dalam hati. Semoga enggak, sampah yang mereka kumpulkan adalah botol PET dari tempat-tempat sampah di pinggir jalan. 

Penampilan mereka lusuh, debu menempel sebadan-badan. Baju ibunya bolong di banyak tempat. Baju yang awalnya sepertinya berwarna kuning sudah jadi entah warna apa, terjemur matahari sekaligus ditempeli berbagai noda dan debu. Kapan terakhir kali bajunya diganti ya? Saya bertanya lagi dalam hati. Si Ibu nggak pakai alas kaki, telapak kakinya pecah-pecah besar sekali, terlihat jelas dari tempat saya duduk di ojek. Sudah berapa jauh hari ini berjalan, Bu?

Penampilan anaknya tidak jauh beda, badannya lusuh, bajunya kotor, tapi ada satu hal yang kontras sekali terlihat dari keseluruhan penampilannya; sepatu putih. Anak itu memakai alas kaki, sepatu putih yang terlihat pas di kakinya, tidak kedodoran. Sol-nya masih kokoh. Jahitannya masih rapi. Bukan sepatu baru yang putih mengilap, bukan. Jelas terlihat itu sepatu yang sudah dipakai beberapa lama. Tapi dari keseluruhan penampilan mereka, sepatu itulah yang paling mahal.

Dapat dari mana ya.. Memungut di jalan? 
Atau beli di tukang loak, mengumpulkan dari hasil memulung? Ibunya mengalah, merelakan uangnya dipakai untuk beli sepatu bagus yang pas di kaki anaknya, merelakan kakinya sendiri kering, perih dan pecah-pecah. 
Sepatu itu pasti kesayangan si anak, menemaninya berjalan jauh tanpa kakinya harus terluka.
Pikiran saya melayang-layang.

Lampu merah hampir berganti. Si anak berlari menyeberang jalan sambil tertawa-tawa riang, memanggil ibunya untuk cepat menyusul.

Lampu hijau menyala. Ojek kembali berjalan, mata saya basah sudah.


Ya Allah, jadikan anak tadi manusia yang shalih, penentram dan penyejuk bagi orang tuanya.
Jadikan ia penerang, cahaya bagi agama-Mu.
Aamiin.

08 October 2015

Jalan-jalan KL (2)

Tibalah di KLIA. Airasia udah nggak di LCCT lagi rupanya ya? Good, good. 
"Bu, berasa di Narita nggak sih?", kata Aa. Memang banyak kemiripan yang kami temukan, yang ternyata bukan hanya di bandara. Di kotanya, di penataan kendaraan umum, di KL Sentral juga kami merasakan ada kesamaan suasana dengan di Jepang. Setelah ditanyakan, kolega Aa yang local Malaysian bilang memang banyak orang pemerintahannya yang belajar dari (atau di?) Jepang. Lalu mungkin diadopsi juga ke tatanan infrastruktur negaranya ya. Saya belum memastikan sih, kemaren nggak sempet ketemu perdana menterinya. :P 

The Hotel
Pertimbangan pemilihan hotel adalah lokasi, tentunya harus dekat tempat Aa konferensi di Putra WTC. Lalu karena kami akan menginap selama 4 malam plus bawa anak kecil, jadi cari yang cukup nyaman. Syarat tambahan dari Aa, "Yang include breakfast ya Bu. Kasian Ibu sama Sorai kalo harus keluar pagi-pagi." *salim* 
Pilihan kami pun jatuh pada Sunway Putra Hotel. Lokasinya literally sepelemparan batu dari tempat konferensi (dengan catatan yang lemparnya atlit profesional, kalau saya yang lempar kan, ya gitu deh). Tinggal lewat jembatan penyeberangan doang. Di bawahnya ada mall lumayan besar, banyak tempat makan dan ada supermarketnya. Bangunan hotelnya baru, bersih, nyaman. Stafnya oke. Lobinya luas dan lux, barangkali jalan-jalannya sama anak yang doyan lari-lari di lobi :P. Ada free shuttle ke KLCC dan Bukit Bintang. Ada kolam renang outdoor sama tempat fitness, tapi kami nggak pake sih. Ada kamar yang view-nya twin tower. Lalu yang jadi highlight dari hotel ini adalah.. sarapannya, SUPERB! 
Yang jadi catatan, waktu check in kami harus nunggu hampir 1 jam sampai kamarnya siap. Saya booking lewat booking.com dan ada beberapa special request yang saya minta, extra cot sama surprise kecil di kamar buat Aa, kan ceritanya sekalian ulang tahun pernikahan tea. Small cake/card will do, dan untuk akomodasi sekelasnya saya rasa request seperti itu sudah biasa. Tapi setelah nunggu lama pun request tambahannya nggak ada yang dipenuhi. Hmm. 
Catatan untuk ke depannya, kalau booking lewat perantara baiknya nelepon langsung aja kalau mau ada special request. 
Overall value for price? Hmm, average. Recommended kalau memang perlunya di area sekitar itu. Kalau untuk jalan-jalan aja, I guess I would prefer hotels near KL Sentral. Lebih mudah juga dijangkau dari airport karena ada kereta cepat. 

The Award
Keesokan harinya adalah inaugurasi penghargaan dari forum Geosmart Asia. Ingin hati lihat langsung juga, tapi karena registration fee-nya seharga 4 malam di hotel, tentu saja nggak jadi :P. 
Anyway, omedetou gozaimasu Papa-sama. Tahniah! Alhamdulillah.. Thank you for making us proud with your hardwork. :)
Semoga semakin semangat berkarya, semangat belajar dan mengajar. Mudah-mudahan bermanfaat dunia akhirat software-nya. Semakin berkah ilmunya, semakin berkah rejekinya. Aamiin. 
Sebagaimana pada garuda pancasila, kaamiilah pendukungmuuu! :D *krik* 
Sepanjang hari Aa di tempat konferensi, plus malemnya ada undangan makan. Saya sama Sorai tiduran aja di hotel, si anak kicil teler rupanya, masih kecapean. Diajak naik lift aja dia nangis, huuu. 

The Twin Tower at night
Hari ketiga jadwal Aa agak longgar, maka kami harus jalan-jalan dong, ya kan, ya dong. Tujuan pertama tentunya Twin Tower yang sampai saat ini masih jadi icon Kuala Lumpur. Bagus yaa.. Konon gedung yang pernah jadi bangunan tertinggi di dunia ini dibangun di masanya Tun Abdul Razak, mengemban visi agar Malaysia bisa sejajar bangsa maju lainnya di dunia, hmm. 
Kami berkunjung hari Rabu, weekday, tapi tetep penuh sama pelancong. Niat hati mau hunting foto, sengaja bawa kamera besar. Tapi ternyata ribet kalau sambil bawa anak kecil. Pake kamera HP sajalah.

The renown Twin Tower 

Di kolam belakang Suria KLCC, yang tempatnya di situ-situ juga, ada orkestra air. Semacam air mancur yang arah dan tinggi pancurannya diatur sambil disorot cahaya warna-warni, gerakan airnya disesuaikan sama ritme lagunya. Baguuus. Airnya kayak nari. Yang saya lihat pas backsoundnya lagu klasik, pemandangan belakangnya skyscraper di malam hari, jadi rasanya megah banget. Saya terpana lah liatnya. 
"Iih, bagus pisan ya, A!", saya masih terharu. 
"Itu di Monas juga dulu ada kok waktu saya kecil, lebih bagus deh rasanya", kata Aa. 
Tsk. Antiklimaks. 

Petrosains, Central Market dan 3D Illusion Museum
Waktunya jalan-jalan seharian, bareng-bareng sama mahasiswanya Aa. Tujuan pertama Petrosains, di dalem Suria KLCC, yang ada di urutan pertama list friendly places to visit in KL with toddler dari blog rujukan saya. Tiket masuknya 28 RM untuk dewasa, Sorai nggak bayar karena masih di bawah 3 tahun. Seru tempatnya. Konon katanya mirip PP IPTEK yang di TMII.
Sorai anteng? Dia sih selama ada tuas untuk diputer-puter, banyak tombol untuk dipencet dan kursi kayak mobil-mobilan seneng aja. Ngeng ngeeng. Tempat ini paling cocok untuk anak usia SD sampai SMP kayaknya, bisa berjam-jam nggak mau pulang. 


Lanjut ke Central Market alias Pasar Seni. Kalau mau cari oleh-oleh banyak dengan harga terjangkau, di sini tempatnya, cmiiw. Sebagian besar kiosnya jual baju dan kain yang khas melayu dan India. Ada juga kios aksesoris semacam gelang, tas, cokelat juga ada. Bagian belakangnya ada kios-kios kecil yang jual lukisan, keliatannya bisa juga minta lukis di tempat. Kami nggak niat belanja, jadi jalan-jalan aja dan menemukan 3D illusion museum di gedung bagian belakang lantai 3. 

Musium 3D illusion yang ada di central market ini nggak terlalu besar, cuma sekitar 4-5 ruangan. Tiket masuknya 21 RM untuk dewasa, yang ternyata itu harga untuk Malaysian, saya baru nyadar berhari-hari kemudian :P. Untuk foreigner, tiket dewasa kalau nggak salah sekitar 30 RM. 
Bagi yang mau jalan-jalan ke musium 3D illusion, here's a note, jangan sama anak kecil yang udah cape, apalagi ditambah bawaan banyak. Zzz. Bagusnya musium ini kan dilihat di hasil fotonya kan. Mana bisa foto-foto dan gaya-gaya sambil anaknya cranky kan. Zzz. Namanya juga dadakan sih tapi. Alhamdulillah, udah sempet ngunjungin musiumnya. 

Yang hasilnya masih acceptable.

Yang sudah nggak bisa dibujuk.

Habis itu kemana lagi? Nggak kemana-mana. Malemnya aja keluar sebentar cari makan dan lewatin Jalan Bukit Bintang. Mau liat air mancur lagi pun batal karena hujan, hahaha. 
"Kasian Ibu, De. Pengen liat air mancur lagi, De."
"Iya atuuh, da aku mah kecilnya di Garut, Aaaa. Liatnya sungai, bukan air mancur di Monas." 
:P 
Lalu besoknya pulaang.

Aaah, kenapa kalau liburan rasanya cepat sekali ya. Setelah beberapa kali mampir di airportnya doang, alhamdulillah akhirnya kesampean juga bisa jalan-jalan di kotanya. And despite the jerebu that was hovering in the air during our visit, I love the city. Kotanya lively khas metropolitan, tapi lalu lintasnya masih manusiawi. Lalu, as I expect the city will be somewhat like Jakarta, it was surprisingly clean. Hiks. (Sedih karena Jakarta belum bisa bersih.) Paduan modernitas, budaya asli melayu dan suasana multi-etnis yang memang dominan terasa semua dengan proporsi yang menurut saya masih enjoyable. Love. *brb cari vacancy di KL* 

Seneng? Yees, I'm so happy. Semoga Sorai sama Papa juga seneng. Alhamdulillahirabbil 'alamiin, terima kasih ya Allah udah dikasih rejeki liburan, juga rejeki sehat semuanya. Terima kasiiih, Papa-sama! :D 

So long, KL! Thank you for the memorable journey. I wish to see you again sometime soon.. :) 


..with better selfie skill. :P

07 October 2015

Jalan-jalan KL (1)

Hasil penelitian Aa sama tim mahasiswanya, tentang software penghitung pohon sawit, dapet penghargaan dari forum Geosmart Asia. Alhamdulillah :). Tahun ini, forum tersebut diselenggarakan di Kuala Lumpur, yang jadi alasan utama Aa berangkat ke sana. Sebagai keluarga yang kompak, tentu saja kami harus selalu saling mendukung kan. Kalau bisa dari dekat kan. Berarti saya sama Sorai harus ikut juga kan. Heheheh. Kebetulan tanggalnya juga deketan sama ulang tahun pernikahan yang ke-5, pas banget kan (kata pepatah, carilah alasan untuk jalan-jalan, sampai ke negeri Cina). Hore, liburan deh! :D

Singkat cerita, urusan akomodasi dan transpor diserahkan pada si ibu ekonomis. Mengusung prinsip cari yang bagus tapi nggak mahal-mahal banget, dipesanlah hotel dan pesawat yang non-refundable. Selesai semua H-5 keberangkatan. Lalu, jreeeng, besoknya Sorai demam. 

Sambil memantau kondisi, minumin paracetamol waktu demamnya udah tinggi, si ibu berdoa yang diajarin Mbak Sita, mbak solihah guru tahsin, sewaktu anak sakit. (Doanya bukan buat anak aja sih, buat siapa aja.) "Pegang ubun-ubun anak, sambil baca doa ini tujuh kali: As 'alullahal 'adziim rabbul 'arsyil 'adziim an yasfiik". Doanya dari hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Al Hakim. Artinya, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan mempunyai Arsy yang Besar, semoga Allah menyembuhkan engkau. 

Beberapa hari itu deg-degan deh, bisa berangkat nggak niih. Sampai sehari sebelum berangkat demamnya masih belum juga reda. Saya sudah pasrah (sambil manyun :P) seandainya harus batal berangkat dan ditinggal berdua sama Sorai. Atau nyusul berangkat nunggu demamnya Sorai hilang. Kalau rejekinya bisa berangkat ya insyaAllah jadi berangkat, kalau belum ya.. mau gimana lagi kan. 
Tapi apparently buat Aa itu bukan opsi. Pilihannya cuma dua, either berangkat semuanya, atau batal semuanya. "Mana bisa lah ninggalin Ibu berdua aja sama Sorai yang lagi sakit", katanya. *salim*
Aa batal berangkat juga, for many reasons, jelas bukan pilihan. Sambil terus mantau kondisi Sorai, sore hari Aa ketok palu (imajiner), diputuskanlah kami jadi berangkat. Bismillah. 

Senin sehabis subuh kami berangkat, sepanjang jalan berdoa biar perjalanannya selamat dan lancar, biar Sorai juga sehat. Alhamdulillah demamnya nggak dateng lagi! *dadah paracetamol* *sujud syukur* 
KL, here we come! :) 

30 July 2014

Behind the Scene: Foto Lebaran

Melanjutkan tradisi keluarga Abang dan Neng Toyib yang sudah 4 lebaran nggak pulang-pulang, untuk membuat ucapan selamat buat teman dan saudara, sepulang shalat Ied kami berfoto bersama di rumah. Setelah 2 tahun hanya foto berdua, alhamdulillah tahun ini sudah ada anak bayi yang ikut meramaikan sesi foto (walaupun anaknya berfoto sambil teler ngantuk gara-gara pagi-pagi banget udah diangkut ke mesjid untuk ikut shalat). Anyway, tahun ini kami pindahan rumah. Jadi selain anggota baru, yang juga baru adalah pojok untuk berfotonya.


"Bentar, diliat dulu udah pas belum terangnya"

 
"Bu, cobain ada orangnya Bu"

 "De, bangun De kita foto dulu ayo!"

 "Ah sudahlah.."


Kemudian;
"Bu, fotonya bagusan yang di depan mesjid deh, yang tadi pake HP."
"Zzzzz..."

 ***

Anyway, Selamat Hari Raya Idul Fitri! Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin :).



06 February 2014

Dunia (Dede) dalam Berita

Berita 1: Asyem-asyem
Beberapa waktu terakhir, kalau saya habis makan yang rasanya agak asem semacam yoghurt atau minuman seperti Pocari Sweat, terasa Dede gerak-gerak di perut. Hal ini terjadi beberapa kali. Maka dengan asumsi tak berdasar, saya menyimpulkan kalau Dede lagi keaseman hihi.
Beberapa hari kemudian, saya membaca artikel dari whattoexpect.com tentang perkembangan janin di usia 21 minggu. Di sekitar usia ini, janin mulai minum amniotic fluid dan merasakan rasa makanan yang dikonsumsi sama ibunya. Lalu dalam artikel itu dinyatakan bahwa nantinya, bayi akan lebih mudah menyukai makanan yang dirasanya familiar. Artikel itu ditutup dengan kalimat: "If you want your child to eat broccoli later, eat yours now!". (Aduh gimana ini, saya ngga doyan brokoli..)
Malamnya, saya sama Aa beli jeruk di warung langganan. Harganya murah banget dibanding di toko lain. Sampai rumah, Aa makan jeruknya dan ternyata rasanya aseeem. Dengan mata berbinar penuh semangat untuk menghubung-hubungkan isi artikel dan asumsi saya, segera saya minta satu jeruknya. Mengendus adanya modus iseng, Aa cuma kasih satu buah jeruk yang kecil :P. Betul, rasanya aseeem. Cukup asem untuk bikin wajah meringis dan mata mengerjap-ngerjap.
Reaksi Dede? Gerak-gerak lagii! Hihihi.. Iya Nak, itu yang namanya rasa asem, seger ya? :D Mudah-mudahan Dede nanti suka semua rasa ya..
Yang sabar ya Nak, punya ibu iseng betul.. *cium Dede* :D

Berita 2: Bangun Tengah Malam
Semalam, saya terbangun karena perut rasanya ngga enak sekaligus sangat lapar. Seingat saya, terakhir kali terbangun gara-gara laper banget adalah waktu trimester satu. Mau bangun dan ambil makan sendiri, agak khawatir karena perut agak sakit, nggak tahu kenapa. Kecurigaan saya penyebabnya adalah kebanyakan makan kacang (nggak tau sih ada hubungannya atau engga, tapi kemarin saya makan kacang banyak banget dibanding biasanya :P), atau perutnya tercolek dengan agak keras akibat gerakan yang tidak disadari waktu tidur.
Terpaksa saya bangunin Aa, dengan kekhawatiran bahwa Aa akan bangun dalam kondisi cemberut karena tidurnya diganggu dengan ngga pentingnya. Setelah bilang minta tolong diambilin makan, yang dibangunin ternyata malah nyengir lalu bilang, "Dedenya minta mam yaa?". Aa lalu ke dapur, ngangetin sup, ambilin makan. "Kalo mau apalagi bangunin aja ya.. :)", katanya. Hiks, makasih Aa.. Semoga nanti Dede jadi anak baik dan penyayang, mencontoh Papanya :').

Berita 3: Diskusi sama Pak Guru
Kemarin, saya melaporkan hasil analisa dari eksperimen sama Pak Guru. Sebelum diskusi, saya merasa langkah riset selanjutnya yang saya bayangkan udah oke banget. Begitu diskusi berlangsung, seperti biasa, Pak Guru menemukan langkah yang lebih oke dan efisien untuk dilakukan. Tentu saja saya senang karena risetnya bisa lebih hemat waktu dan tenaga. Sekaligus tersentil juga untuk mengingat lagi, selesai sekolah sama sekali bukan bergenti selesai belajar. Masih banyaaaak banget yang bisa dan perlu untuk dipelajari :).
Terus hubungannya sama Dede apa? Diskusinya berlangsung setelah makan siang, waktu di mana biasanya Dede aktif bergerak. Tapi sepanjang diskusi, Dede anteeeng banget, cuma sesekali terasa ada gerakan halus. Saya membayangkan kalau waktu itu Dede ikutan serius dan konsentrasi untuk diskusi, dengan tangan di dagu dan kepala manggut-manggut, hahaha lucu ya kalau beneran begitu. Baiklah, saya kebanyakan berimajinasi :P. Habis diskusinya selesai? Tentu saja Dede aktif joget lagi :D.
Semoga jadi anak shalih yang cinta ilmu ya De.. :)

***

(Mic pembaca berita diambil alih sama Dede)
Baiklah, sekian yang dapat Dede sampaikan dari Dunia (Dede) dalam berita kali ini. Nantikan lepotase Dede selanjutnya ya Om Tante.. Juga doakan Dede dan Ibu dan Papa dan semuanya sehat truus yaa.. Salam Babalimatchu! :D 
 

24 January 2014

Dede v2.0

Kehadiran Dede baru kami ketahui di suatu sore, beberapa hari setelah pulang dari Arab akhir tahun lalu. Reaksi Aa? Senang dan bahagia serta gembira ria banget dong. Bilang alhamdulillah tak henti-henti. :D
Reaksi saya? Iya bahagia juga dong, banget. Hanya sekaligus agak pening membayangkan bahwa selama kegiatan di Arab, Dede juga ikutan pola hidup ala survival. Tidur di tenda, desek-desekan, bermalam di pinggir jalan.
Oh Dede, kenapa nggak bilang kalau Dede waktu itu ikut, Nak? Kenapa? *Ya kali, Ti..*

Besoknya saya sama Aa pergi ke klinik yang sama dengan yang dulu kami kunjungi. Selain karena kliniknya nyaman dan stafnya ramah-ramah, dokternya juga mirip pemain dorama favorit saya dan Aa (penting abis). Hari itu adalah pertama kali saya melihat dede yang masih keciiil sekali di layar USG. Bu Dokter menunjukkan detak jantung Dede di monitor. "Heartbeat?", tanya saya sama Bu Dokter, untuk meyakinkan diri sendiri. "Yes", katanya. Iiiiih, ada Dede. Assalaamu'alaikum, Nak.. :').
(Sebentar, saya pura-pura ambil tissue dulu untuk lap air mata. Biar dramatis.)

Enam minggu usianya waktu pertama kali periksa, sekarang Dede hampir 19 minggu. Sudah memasuki trimester kedua kehamilan.

Trimester pertama, alhamdulillah nggak sampai mual-mual hebat, hanya sedikit mual dan agak pusing saat pagi dan kalau perut dibiarkan lapar. Hal lain yang terasa adalah badan yang lebih cepat lelah, terlebih kalau nggak ngapa-ngapain. Iya, kalau seharian tiduran terus, badan rasanya malah capee banget. Kalau beraktivitas malah terasa lebih segar :D. Nafsu makan? Aduh saya nggak paham, itu faktor perubahan cuaca yang makin dingin, kebutuhan Dede, atau memang sayanya aja yang doyan; tapi makannya jadi banyak sekali. Untunglah sebelumnya saya termasuk underweight (yang sudah pusing karena nggak berhasil melulu naikin berat badan), jadi ada lebihan jatah kenaikan berat badan selama hamil :D. Di sini kontrol kenaikan berat badan selama hamil memang termasuk ketat, nggak boleh kebanyakan.
Sebetulnya ada satu hal lagi yang terasa: malas mandi. Tapi sejauh ini saya tidak menemukan artikel yang menyebutkan bahwa itu adalah bagian dari symptom kehamilan. Jadi dengan terpaksa saya akui kalau itu hanyalah kemalasan pribadi. Dan faktor musim. :P
Alhamdulillah trimester pertama lancar terlalui. Dede pun genki, kata dokter. :) Terima kasih ya, anak soleh. Sini dicium dulu, muah!

Trimester dua, bagaimana rasanya?
Sejauh ini alhamdulillah lancar juga. Mual sudah nggak terasa, badan pun lebih segar walaupun masih belum bisa diajak main badminton atau jogging lagi. Padahal Kate Middleton aja kan masih main pingpong waktu hamil 6 bulan. (Uti, please..)
Nafsu makan? Sama aja kayak waktu di trimester pertama, makannya banyak  :D. Bedanya, kalau di trimester pertama indikator harus segera makan adalah rasa mual, di trimester kedua ini indikatornya colekan Dede. Iya, ini si anak kecil udah terasa colekannya sejak sekitar minggu ke 16, hihi. Salah satu artikel menyebutkan biasanya gerakan janin mulai terasa di usia sekitar 18 minggu, tapi semakin kurus ibunya, semakin cepat juga terasa gerakannya. Oh, baiklah.
Biasanya, kalau terasa Dede sedang tepuk-tepuk, sebisa mungkin segera saya usap disayang-sayang. Kemudian suatu hari saya sedang iseng, Dede tepuk-tepuk dan saya cuekin hihihi, ingin tahu reaksinya. Ternyata dia istiqomah tepuk-tepuk terus! Setelah saya usap baru dia berhenti. Hahaha, lucu amat sih, Naak.. Malamnya saya ceritain sama Aa, kemudian saya diomelin, lain kali cepet diusap aja katanya. Ih, kan cuma iseng. :P
Kemudian, hobi Dede sekarang adalah joget dan senam. Makin sini Dede makin pinter dan sering joget dan senamnya. Yang bodor, beberapa kali, pas waktu saya pasang earphone untuk denger radio, Dede ikut joget-joget di perut. Sekitar usia ini kan memang katanya janin sudah bisa mendengar, tapi masa iya bisa denger suara dari earphone yang dipasang di telinga ibunya? Saya cek di beberapa artikel, dan ternyata jawabannya ngga bisa kedengeran. Yang terdengar ya suara di luar.
Terus kenapa Dede jogetnya pas banget waktu saya baru denger radio? Ini masih menjadi tanda tanya. Yang pasti hobi joget ini tentunya turunan dari bapaknya, karena ibunya kan kalem :P.  

Baru hari Sabtu kemarin kami periksa lagi ke dokter, berharap udah bisa tahu gender-nya biar bisa siapkan nama dan mulai beli baju lucu-lucu, hehe. Tapi belum terlihat jelas kata Bu Dokter, baiklah kita tunggu saja. Selebihnya sih, Dede dan saya pun sehat alhamdulillah. Sehat terus yaa, anak soleh kesayangan. :*

Mohon doanya yaa, agar semuanya lancar sehat selamat dan bahagia sampai Dede lahir dan setelahnya juga. Terima kasiih.

"Ayo Ibu, Papa, Nenek, Kakek, Tante, Oom, Kakak dan temuanya, belsama Dede kita babalimatchuuu!!!"
(Itu Dede ngajakin semuanya ganbarimasu katanya, hihi. Marii! :D) 

26 December 2013

Reaxys Prize 2014

(Posting ini panjang banget dan sepenuhnya curhat pribadi. Ngga usah dibaca deh, beneran. Saya posting untuk pengingat pribadi betapa sering saya dudul seperti ini, dan kalau ditaruh di draft pribadi seringkali tenggelam lalu hilang, lupa dibuka lagi. Tapi jikalau seandainya ada yang dengan ikhlas mau baca curhatan ini, semoga ada manfaat yang bisa dipetik dan dibawa di hati.)

Hadirnya Dede di hidup saya, ditambah sempat vakum dari dunia kampus selama 3 bulan sewaktu liburan kemarin membuat saya merasa cukup. Cukup dalam hal mengejar segala sesuatu yang bersifat ambisi pribadi. Sampai saya menerima e-mail dari Pak Guru seperti di posting sebelumnya (yang isinya sebetulnya jauuh lebih panjang, tapi saya edit karena terlalu personal :p), sedikit banyak semangat untuk meng-eksis-kan diri tumbuh kembali :p.

Beberapa hari setelah itu, ada satu e-mail di inbox saya yang menginformasikan tentang satu ajang lomba untuk penelitian doktoral di bidang kimia. Reaxys PhD Prize namanya, keren ya terdengarnya. Saya lalu semangat sekali mencari informasi lebih jauh. Dibaca sekilas, temanya cocok dengan bidang riset saya. Syaratnya pun nggak terlalu susah, cukup menjelaskan satu jurnal pilihan yang sudah dipublikasi, nggak perlu buat esai baru. Syarat lainnya hanya CV dan surat rekomendasi dari profesor. Pemenangnya akan dihadiahi sejumlah uang tunai, dan yang paling menarik untuk saya adalah bahwa 3 orang pemenang dan sekitar 40 orang finalisnya akan diundang untuk menghadiri Reaxys Conference 2014, juga tergabung dalam keanggotaan Reaxys Prize Club. Ini menggiurkan sekali (untuk saya) saudara-saudara! Kalau nggak malu saya ngiler beneran deh ngebayanginnya :p. Nggak berharap menang juga sih, karena kompetisi sekelas ini mestilah juaranya menakjubkan. Saya mau coba aja.

Baiklah, saya semakin semangat. Sudah intip-intip website-nya, sudah lihat komite juri-nya, sudah mau isi submission form-nya. Lalu mata saya  melirik satu opsi menu di website-nya untuk melihat pemenang dari tahun-tahun yang sebelumnya. Saya memutuskan untuk melihat dulu kualitas publikasi yang jadi juara.

Saya sudah ber-ekspektasi untuk melihat publikasi di jurnal semacam Nature dan Science dari juaranya, untuk mendapati bahwa tidak satu pun jurnal dari ketiga pemenang yang saya kenali.
"Hah, jurnal apa ini? Kok nggak pernah denger. Nggak sebagus itu juga ternyata publikasinya. Kalo kaya gini sih, kayanya saya juga bisa lah.", kata saya dengan menyebalkannya, mulai songong.
Kemudian dengan jumawa, saya masukkan nama-nama jurnal yang tidak saya kenal tadi ke search engine, untuk menemukan bahwa rata-rata jurnal ini memiliki impact factor di atas 10, hahahahaha..haha..ha..ha..ha.. (ini ceritanya tertawa miris sambil mulai mau pingsan. Saya submit ke jurnal yang impact factor-nya hanya sepersekiannya aja udah megap-megap). Belum puas, saya masukkan nama para pemenang di Scopus (database literatur yang peer-reviewed), dan melihat bahwa masing-masing jurnal dari para pemenang ini sudah di-sitasi sekian puluh kali. Saya mulai mencari bantal untuk pingsan, biar empuk. Lalu dengan sisa kekuatan, saya klik secara acak nama para finalis dari tahun-tahun sebelumnya, yang ternyata SEMUAnya punya publikasi di jurnal-jurnal mengerikan itu. Orang-orang ini sungguh terlalu, kalau waktu masih PhD aja publikasi mereka sekelas itu, mau jadi apa mereka setelah jadi peneliti betulan? 
Semangat saya untuk ikutan redup seketika, hilang semua rasa jumawa, lalu dengan pahit dipaksa mengakui bahwa diri ini hanyalah butiran debu (eaaa).      

Beberapa jam kemudian saya masih merasa kesel yang nggak jelas karena apa, sambil laporan sama Aa.

Lalu beberapa jam lagi dari beberapa jam yang tadi, saya baru sadar. Saya sudah sombong dan tenggelam dalam ambisi nggak jelas. Lagi.
Lupa bertanya sama diri ketika semangat kompetisi tiba-tiba muncul dan menguasai; untuk apa? Untuk siapa? Untuk Allah? Apa karena ingin bisa pamer? :'(  

Alhamdulillah kali ini segera diingatkan, dengan Allah tunjukkan orang-orang yang jauh lebih hebat di mata saya, dengan Allah tunjukkan bahwa saya sebetul-betulnya bukan apa-apa. Mau merasa sombong mah sana nyebur aja lah di Hirosegawa.
Semoga pertanda bahwa Allah masih sayang :'(.

***

Beberapa hari setelah itu adalah harinya mentoring. Materi mentoring minggu itu adalah tentang keinginan versus kebutuhan, yang dirangkai dengan  pembahasan surat Al-Hadiid ayat 20.
Dalam satu ayat ini, seperti dibahas di satu kajian tafsir, Allah dengan indahnya merangkum segala keinginan manusia, tahap demi tahap dari awal sampai sepanjang hidupnya. Dalam satu ayat saja, Allah menyebut hal-hal yang manusia kira akan mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya; permainan (la'ib), hiburan (lahwu), keindahan (ziina), memamerkan keberhasilan (tafaakhurum bainakum), dan membanggakan harta dan keturunan (takaatsurun fil amwaali wal aulaad). Lalu dijelaskan dan diingatkan bahwa sesungguhnya kesenangan setelah mendapat hal-hal ini adalah cepat sekali usang dan berlalu, rasa puasnya cepat sekali hilang. Kemudian di bagian akhir ayat ini, dijelaskan bahwa pada akhirnya nanti, hanya ada dua hal yang hakiki dan tidak pernah manusia akan merasa "bosan" atasnya; siksa neraka dan keridhaan Allah. Penutup ayat ini adalah pengingat, bahwa dunia hanyalah kesenangan yang palsu.

Astaghfirullah..

Alhamdulillah..

Bismillah..

Semoga Allah beri kekuatan untuk istiqomah bersungguh-sungguh lebih menata setiap keinginan. Aamiin.

***

P.S. Setelah ditelaah dengan hati yang lebih tenang, ternyata tema Reaxys Prize nggak cocok dengan riset saya, hahahaha. Tema untuk Reaxys Prize fokus pada sintesa material, sementara riset saya lebih cederung ke ekstraksi, hahahaha (lagi).

Jadi nyari kompetisi di mana lagi ya, De? *kemudian dijewer Ustadz Nouman :P*

05 July 2013

Petualangan Lima Hari

Catatan ini sudah ditulis lama sekali, mulai ditulis dari sejak di pesawat pulang dari New Orleans, dan selesai nggak lama setelahnya. Untuk suatu alasan yang saya sudah lupa, catatan ini lama tersimpan di draft. Dan karena alasannya sudah lupa, jadi saya publish saja hahaha. Semoga ada manfaatnya. 

***

Lima jam menuju Narita, setelah "petualangan" lima hari di New Orleans. Petualangannya pakai tanda kutip, karena sebetulnya selama di sana hanya bolak-balik di sekitar hotel dan tempat konferensi, dan petualangannya lebih banyak terjadi dalam diri sendiri.

Jadi gimana perjalanan solo perdananya berlangsung?

Keberangkatan ke New Orleans kali ini adalah untuk menghadiri konferensi ACS. Sebetulnya, sebelumnya saya minta ikut konferensi tentang energi terbarukan yang diselenggarakan di Spanyol (yang sebetulnya sih ngga terlalu besar acaranya, dan nggak yakin akan dapet feedback terkait riset, tapi ini Spanyol! :P). Sempat dilema antara ingin jalan-jalan dan ingin belajar lebih banyak tentang bidang riset, akhirnya keinginan jalan-jalan mengalah, demi kemajuan ilmu pengetahuan (tsah). Saya harus berangkat sediri, karena waktu konferensi bersamaan dengan awal semester, waktunya Sensei super sibuk. Sewaktu Sensei tanya, betulan saya nggak apa-apa berangkat sendiri, saya jawab iya dengan santai. Saya kira semua tempat di Amerika paling kurang lebih mirip dengan San Diego.

Pelajaran nomor satu: jangan sok tahu :P.

Singkat cerita selesailah semua prosedur registrasi dan persiapan presentasi. Suatu hari, saya mendapat e-mail dari panitia acara, tentang "tips keamanan" selama berada di New Orleans. Isinya kurang lebih tentang himbauan untuk nggak memamerkan perhiasan dan/atau gadget mahal, dan untuk travel bersama grup sewaktu jalan-jalan. Saya merasa kurang nyaman dengan e-mail ini, karena sejauh ini saya ikut konferensi, baru kali ini sampai dapat himbauan semacam itu dari panitia acara (ya memang saya belum pernah juga sih ikut konferensi di Cuba gitu misalnya).

Berangkatlah saya dengan PD-nya, dibekali satu pesan dari Sensei untuk selalu berhati-hati. "They have guns!", katanya, kemudian tertawa -___-. Setelah perjalanan hampir 40 jam dari Sendai, akhirnya saya sampai di New Orleans, untuk kemudian menemukan bahwa citarasa New Orleans ini beda banget dengan California. Suasana pusat perkantorannya mirip sama Jalan Merdeka di Bandung, sementara pusat wisatanya terasa mirip Garut. New Orleans ini memang dulunya dikuasai orang Prancis, jadi bangunannya kebanyakan tua dan bergaya Eropa. Lingkungannya, bisa saya katakan, agak kotor dan kumuh. Gedung-gedungnya banyak yang terlihat usang, entah karena badai Katrina atau memang kurang terawat. Pemandangan grafiti (lebih pas disebut coret-coretan pakai Pylox sih :P) juga banyak, persis seperti di bawah jalan layang Pasopati di Bandung. Banyaknya pemandangan anak muda nongkrong di pinggir jalan bikin suasana kota ini semakin terasa nggak nyaman. Kemudian berkonsultasilah saya sama Mbak Google, tentang keamanan kota ini untuk muslimah berjilbab. Jawaban yang saya temukan cukup bikin shock, ternyata kota ini termasuk tempat yang paling nggak aman, dengan angka kriminal yang tinggi. Pantas saja panitia acara sampai mengirim himbauan keamanan untuk peserta konferensi, menyarankan untuk selalu sama-sama dengan grup kalau jalan-jalan. Lha ya piye iki, grup saya isinya cuma saya dan Juned (si kamera).

Pelajaran nomor dua: you see what you perceive.

Hotel yang saya tempati, lokasinya hanya satu blok dari Bourbon St.  Bourbon St. ini, kata Mbak Dwi yang sudah 2 tahun tinggal di New Orleans, adalah tempat bebas untuk bermaksiat; mau mabuk-mabukan, mau pakai baju kayak Tarzan, semuanya boleh. Mungkin semacam Moulin Rouge yang di Paris ya. Jadinya di sekitar hotel ya banyak yang begitu-begitu juga. Jarak dari hotel saya ke shuttle bus yang disediakan panitia untuk menuju tempat konferensi sebetulnya sangat dekat, mungkin sekitar 300 meter, jalan kaki nggak sampai 5 menit juga nyampe. Tapi berbekal "pengetahuan" tentang angka kriminal yang tinggi, ditambah banyaknya bar dan restoran remang-remang di sekitar hotel, jadilah jarak pendek itu saja saya tempuh penuh kewaspadaan. Di hari pertama, presentasi saya baru selesai pukul 10 malam. Sepanjang pagi dan siang saya berdoa biar diberi keselamatan di jalan pulang menuju hotel. Akhirnya, waktu malam itu saya ketemu peserta lain yang menuju hotel yang sama, mau sujud syukur rasanya :D. Biarlah lebay, tapi waktu itu terasa sekali cuma Allah yang Maha Penjaga. Hari kedua sudah mulai lebih PD, hanya di bagian perempatan aja saya lebih berhati-hati, karena biasanya ramai sama pemuda yang suka nongkrong. Eh ternyata, betulan diteriakin seorang bapak-bapak waktu saya lewat di perempatan itu, sepertinya gara-gara saya pakai hijab. Saya sok-sok santai dengan tetep kalem berjalan, hahaha, padahal kalau itu bapak ngejar pastilah saya ngacir :P. Sore harinya, selesai presentasi hari kedua, saya jalan-jalan ke pinggir Sungai Mississippi. Kan harusnya menyenangkan ya? Tapi di perjalanan kembali menuju tempat konferensi, ada bapak-bapak homeless yang mengikuti dari belakang :P. Segera aja saya cari orang-orang yang sedang jalan berkelompok.

Dua hari dengan level kewaspadaan tingkat tinggi sungguh-sungguh bikin capek, sampai di hotel rasanya lemes sekali. Saya tahu, terlalu fokus sama waspada, bikin saya nggak bisa menikmati keberadaan di sana. Sampai malam itu, saya sedang blogwalking ketika menemukan tulisan ini di blognya Tia: "backpacker sejati meleburkan diri dengan masyarakat setempat". Saya bukan backpacker sih, koper saya aja gede banget. Bukan juga traveller kelas kakap, cuma suka aja mengunjungi tempat baru. Yang menggugah dari tulisan itu adalah mengingatkan saya, bahwa orang-orang lokal di sini juga manusia, yang sama-sama dalam genggaman-Nya. Penampilan saya memang jauh berbeda, muka Asia, badan kecil, berhijab pula. Tapi setiap kita kan orang lokal di bumi-Nya :). Berbekal pemahaman ini, besok-besoknya saya nggak langsung jadi berani juga sih, nggak tiba-tiba nyamperin gerombolan geng pinggir jalan terus nyapa "Hey man, how're ya' doin?", gitu. Tapi setidaknya saya lebih berani tengok-tengok kiri kanan selagi jalan, juga mulai bisa jalan sambil senyum dan nggak melulu pasang muka sok digalakin (yang biasanya gagal).

Hari keempat saya habiskan sebagian di tempat konferensi, dan sebagiannya lagi jalan-jalan sama Mbak Farah (peserta konferensi asal Indonesia juga) dan anak-anaknya ke Audubon aquarium, terus makan di restoran halal setempat yang porsinya guedeee sekali. Sempat juga dengan pede-nya masuk ke The Shops at Canal Place mau cari oleh-oleh, untuk keluar lagi dengan tangan kosong sambil nyengir sendiri, karena toko-toko di dalamnya ternyata sebangsa Gucci. Alhamdulillah berlangsung aman tenteram tanpa gangguan. 
Mengingat bahwa keesokan harinya adalah hari terakhir saya ada di New Orleans, dan mengingat ada titipan permen inhaler dan sereal dari Aa dan Uni sang tetangga; saya cari supermarket terdekat lewat Google. Walmart paling dekat ternyata nggak terjangkau jalan kaki, harus naik taksi. Tapi ya nggak apa-apa lah, cuma sekalinya ini. Saya klik lagi info tentang Walmart di lokasi yang dimaksud untuk melihat review tempatnya, ternyata ada testimoni bahwa di parkiran Walmart yang dimaksud suka terjadi violence semacam perampokan. Astaga. Batal sudah rencana belanja :D. 

Hari kelima, pagi sampai siang harinya New Orleans mendung lalu diguyur hujan lebat, beberapa daerah di sekitar malah sampai dilewati tornado. Sebelum hujan menderas, saya sempatkan kembali ke tempat konferensi untuk ambil sertifikat, dan ke pusat perbelanjaan yang dekat-dekat untuk menggenapkan perbendaharaan oleh-oleh. Sempat terguyur tornado juga, tapi alhamdulillah hujannya nggak lama-lama, sore hari cuacanya cerah lagi. Demi menggenapkan tradisi jalan-jalan dan foto-foto sendirian, saya memantapkan hati untuk berangkat sore itu. Tujuannya nggak jauh, ke Mercedes Benz Superdome, hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari hotel. Untuk jaga-jaga, barang berharga saya tinggal dan ditaruh di tempat aman di hotel. Hanya kamera dan uang secukupnya yang saya bawa. Beberapa blok dari hotel, jalan masih ramai. Tapi makin jauh makin sepi, dan orang-orang yang dilewati terlihat agak menakutkan. Oh baiklah, perjalanan dicukupkan saja, nggak perlu sampai ke Superdome :P.
Malam menjelang, tinggal beberapa jam menuju penerbangan kembali ke Jepang. Perjalanan di New Orleans alhamdulillah ditutup dengan menyenangkan, saya dijemput Mbak Dwi sekeluarga di hotel, untuk jalan-jalan di wilayah French Quarter dan mencoba makanan khas kota ini di Cafe Du Monde. Tanpa ini, yang saya ingat tentang New Orleans mungkin hanya perjalanan yang menegangkan. Dengan keramahan Mbak Dwi, perjalanan ini terhiasi sepotong gambar keluarga yang memberi kehangatan :).

Pelajaran nomor tiga: lessons do not always feels nice, but they are always precious.
Perjalanan solo ini, semakin mengenalkan saya pada diri sendiri, terutama pada banyaknya kekurangan yang harus saya perbaiki. Dua puluh lima tahun ini, hidup saya disibukkan dengan berbagai persepsi dan ekspektasi. Saya sadar, ketidaknyamanan saya selama di sana mungkin sebagian besar karena kewaspadaan yang terlalu, I just couldn't help it yet
New Orleans, adalah tentang ekspektasi yang tidak terpenuhi, dan tentang persepsi yang membelenggu dan menakut-nakuti. Di perjalanan pulang ini, satu hal saya pelajari tentang kenyamanan diri. Ia bersumber dari penerimaan, berawal dari rasa cukup dan kesyukuran :).

Thank you, New Orleans. You are a journey of a lifetime.


28 February 2013

Bunda, Abah, and Yaya; A Story of Love

Bunda had been enrolled in a graduate school when she got pregnant, about two years ago. It was her first year, and the program in this graduate school required her to complete the final year in Japan. Yaya was born months later, and due to this Bunda took a one semester leave, giving her undivided attention to the newly born baby. Loving, caring, nurturing; Bunda's life revolved around Yaya. Again months passed, and it was about time for her to get back to the reality of academic life; facing the final year, dealing with the tough responsibility of being away from home. Yaya was only 5 months old at that time, still exclusively breastfed when Bunda had to leave, very far away.

Bunda finally went to Japan, accompanied by Abah in the first month, spent their time adapting in the new environment. The biggest effort was in the adaptation to separation, they have never been in such great distance with Yaya. Yaya's pictures were among the first thing that Bunda put on her working desk, she stared at them like every time.
A month passed, and again it was the time for another separation, Abah had to go back home. Bunda took Abah to the bus that would take him to the airport that day, and gloom was on their eye. They were suppose to be always together, weren't they? The emptiness was simply beyond words.

Bunda continuing her life alone there, went through the tough academic responsibility while dealing with the loneliness at the same time. Piles of tasks, experiments, reports, and discussions with news about Yaya from Abah in between. On one day, she had to carry out an experiment and worrying Yaya that had fever at the same time. On another day, she cheerfully told stories about Yaya's first words while analyzing samples from experiments. Hard times were when she missed Yaya's many first things, particularly the first birthday. Among the most frequent stories she shared was about how Abah marvelously took care of Yaya, and about how they become more and more inseparable. 
A delightful thing was that, despite the hardship that she faced, Bunda was still a cheerful and comforting person as she had always been. She might cry a little, or even much because of the separation, but never a single drop of tears be seen by others.

Time flew and after a year her final defense was finally approaching, and Bunda was excited of two things: the defense itself, and the coming of Abah and Yaya a few days afterward. She faced the final defense excellently. She passed with good result and her research is even now under the process to be published in a well-known international journal.

Then it was the time for the most waited moment, reunion with the loved ones, Abah and Yaya. Even people on their surrounding could feel the happiness and relief, a very heavy burden was finally lifted. On that night, Abah tweeted about the beauty of witnessing Yaya peacefully slept on her mother's cuddle. 
After spending a couple of days in Japan, they went back home last night. And to see the three of them get back together, is miraculous.

"After a difficulty, Allah will soon grant relief." (Q.S. 67:7)




P.S.
One asked Abah once, about why he encouraged Bunda to continue her study that cost them long separation while she actually could just resign from school in the first place.
"It is easy to seek for other option rather then facing the hardship in commitment we have made", Abah said.
"But this is to teach us that when a commitment comes with challenges, we know not to run away".

***
Dedicated to the Super Bunda, Rina Riana Sondari

Congratulations for everything, enjoy toghetherness. :)


Sincerely,

Wawachibi         

23 October 2012

Proyek Publikasi

Setahun lalu, beberapa waktu sebelum tahu kalau saya hamil, semangat saya meneruskan sekolah benar-benar sedang di ujung tanduk. Saya sedang serius mengistikharahkan apakah sebaiknya saya berhenti saja dari program doktor yang sedang dijalani. Nggak kuat dengan beban hidup ini, ceritanya *tsaah :D. Eh terus sekitar dua minggu kemudian, pas kebetulan lagi mudik ke Indonesia, test pack dan hasil USG dokter menunjukan bahwa saya positif hamil. Setelah itu saya kembali ke Jepang dengan semangat baru, mau nyelsein sekolah dengan baik; demi Dedek. Yosh! Ibunya harus semangat, demi Dedek!

Satu waktu, saya bilang sama Dedek, "Biar hamilnya nggak mainstream, kita ngidam publish paper yu Dek!" :P Jadi selama hamil mesti bisa nyelsein satu publikasi, huehehe :D. 
Tapi ternyata Dedek sudah kembali dipanggil pulang, sebelum proyek kami selesai. Dengan sisa semangat yang sempat disuntikkan oleh si Guru Kecil, saya meneruskan proyek ini.

Bulan lalu, saya menerima e-mail dari Pak Guru, mengabarkan bahwa setelah mengalami perjalanan submit-reject-revise-resubmit-revise-resubmit, papernya akhirnya diterima, alhamdulillah. 


Sambil nyengir-nyengir senang, saya melamunkan seandainya aja namanya Dedek boleh dimasukin juga di barisan author.

Dek, proyek ngidam papernya udah selesai nih. 

Dedek lagi apa ya.. Ibu kangen..

23 August 2012

Sesi Diskusi

Barusan aja saya habis diskusi sama Pa Guru, menyerahkan hasil analisa data yang dikerjain sambil guling-guling seminggu ini.

"Oh iya ini hasilnya jelas banget", kata Pa Guru. Padahal saya ngejelasin juga belum, beliau ini memang macam cenayang kadang-kadang. Hasil kerja saya sekian windu bisa dinilai dalam hitungan kejapan mata, ihiks.

"Terus selanjutnya gimana? Kamu kepikiran nggak gimana menyimpulkan semua hasil kamu digabung sama data yang kemarin? Hmm, gimana ya", lanjutnya.
Pa, itu seminggu saya mencurahkan segenap jiwa raga buat ngerjain hasil yang sekarang saya kasiin doang, boro-boro kepikiran gimana selanjutnya Pa.

"Ini hasilnya bagus kok, cuma saya masih belum bisa ngasih arahan yang jelas gimana menyimpulkannya. Tapi kayaknya ini datanya udah cukup buat bikin tulisan lagi. Nah, kamu siapin paper selanjutnya ya!"
Kemudian beliau tertawa, kemudian saya mulai ingin pingsan.

"Oke, kamu siapin papernya sampai bulan depan ya, bulan Oktober kita mulai diskusikan. Oh iya, kamu tinggal setahun lagi kan sampai lulus?"
Saya nyengir sambil mulai lirik kiri kanan untuk mengestimasi kalau mau pingsan kira-kira lebih enak ke arah mana.

"Nah sampai sekarang kan data kamu udah cukup buat 3 bab tuh, 4 bab sama pendahuluan. Satu atau dua bab lagi cukup. Ya udah deh, bulan depan aja kasiin ke saya draft paper sama rencara bab 5-nya ya"
...
...
...
*terjun payung*