Showing posts with label notetoself. Show all posts
Showing posts with label notetoself. Show all posts

10 February 2017

Note to self: Mandiri

Mungkin, memupuk kemandirian itu bukan dengan mengajarkan anak agar bisa detached dari orang tuanya; 
tapi dengan membentuk bonding yang kokoh, sedemikian kuat sehingga mereka merasa nyaman untuk kemudian bisa bereksplorasi sendiri. 

26 June 2016

Note to Self: Seruan

Satu hari di Sendai.
"A, kalo ada orang yang, sebatas aku tau, ngelakuin sesuatu yang salah/nggak tepat, tapi orangnya nggak terlalu kenal, itu langsung bilang aja apa gimana?" 
"Sebisa mungkin dideketin dulu.. menangkan hatinya. Biar pesan yang dari hati, nyampenya ke hati juga."

Dalam satu kajiannya, Ustadz Salim menjelaskan bahwa cara menyeru orang menuju kebaikan itu ada tiga, berturut-turut sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.
Yang pertama dengan hikmah. Hikmah itu apa? Sesuatu yang diberikan, yang manis, lembut dan bermanfaat untuk penerimanya.
Kedua, nasihat yang baik. Dan sebaik-baik nasihat adalah yang diminta. Kenapa? Karena menerima nasihat itu butuh kesiapan. Orang-orang shalih yang minta segera dinasihati ketika tersalah, yang siap menerima nasihat kapan saja, aaah.. betapa Allah lapangkan hati mereka, masyaAllah. Nasihat yang meleset dari sasaran, mungkin seperti jabat hangat yang ditujukan pada tangan yang luka, alih-alih menumbuhkan sayang, malah bikin meradang.
Ketiga, urutan terakhir, adalah debat dengan cara yang lebih baik. Kenapa terakhir? Wallahu a'lam. Hanya biasanya orang masuk ke arena berdebat dengan niat memenangkan argumentasinya, bukan untuk mencari kebenaran. Maka sekiranya jalan ini harus ditempuh, ada catatannya, harus dengan cara yang lebih baik. Lebih baik dari siapa? Seperti apa? Nah, yang ini lupaa. Harus belajar dan cari tahu lagi. 

Wallahu a'lam bish shawab

26 March 2016

Note to Self: What is More Important

There was a time when I want to be a person that inspires. I obliged myself to achieve this and that in a wish to inspire others to do good. But then it occurred to me that such longing can lead to the urge to be seen by others, and I found that one's necessity to show what he did may cause him (or her) to fake and mask himself (or herself). I don't want that. What others think of me is not for myself to decide anyway. 

Now I try to put more effort on making sure that sincerity is on my every act and every word. I believe it is more important. 

24 August 2015

Firuta

Suatu sore beberapa tahun lalu, waktu kami masih tinggal di Sendai, saya sama Aa jalan-jalan ke satu toko buku besar di downtown. Di antara jejeran rak buku raksasa yang berbaris-baris mengelilingi kami itu, Aa bilang, "liat deh, ini buku-buku sepenuh toko ini, semuanya hasil pemikiran manusia ya. Kita habisin seumur hidup buat baca juga kayaknya nggak akan bisa selesai semuanya". 

***

Bagian awal surat Al Kahfi, menceritakan kisah yang menjadi nama surat tersebut, kisah para pemuda Kahfi. Kisah ini tentang sekelompok pemuda (dari kalangan istana), yang rela meninggalkan segala kenyamanan dan hidup di gua demi mempertahankan iman kepada Allah. Pertolongan untuk mereka adalah sederet keajaiban; diberi perlindungan di gua, dijaga anjingnya, ditidurkan 309 tahun lalu baru dibangunkan ketika jaman sudah berganti dan pemimpin beriman yang memegang kuasa. Di ayat 22, Allah berfirman: 

"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: '(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya', sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: '(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya'. Katakanlah: 'Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit'..". (QS Al Kahfi:22)

Sampai akhir kisah, bahkan sampai akhir surat, nggak ada jawaban tentang jumlah pemuda Kahfi ini. Dari kajiannya Ust. Nouman tentang kisah ini, ayat di atas adalah celaan. Celaan untuk yang, alih-alih memaknai pelajaran dalam kisahnya, malah meributkan berapa jumlah orangnya. Mempermasalahkan yang trivial dan mengabaikan esensi. Be it 3, 5 or 7, apa pentingnya?

***

Bahwa sumber daya yang kita miliki itu terbatas, adalah apa yang lalu saya pahami dari yang Aa sampaikan di toko buku sore itu. Kapasitas nalar kita terbatas. Kapasitas ingat kita terbatas. Kemampuan analisa kita terbatas. Waktu kita terbatas.
Saya pusing sendiri dan agak ngeri dengan information overflow yang makin sini semakin membanjiri, dalam segala hal. Akses informasi yang terlampau mudah, yang bahkan nggak dicari pun nampak sendiri, seringkali mengaburkan antara mana yang menarik dan mana yang penting. Kadang sekedar karena menarik dan bikin ingin tahu, jadi suka dipenting-pentingin, huuu. Padahal yang sebenar-benarnya penting, sangat mungkin tidak  tampak menarik. 
Berapa jumlah pemuda Kahfi, itu pertanyaan yang menarik. "Eh iya ya, berapa orang ya?". Apakah penting? Apparently no. (Ada sumber yang menyebutkan bahwa kisah lengkapnya memang ada, di kitabnya Ibn Katsir. Jangankan sekedar jumlah orang dan namanya, detil ukuran istana dan gambaran hiasan singgasananya aja ada. Yet still not very essential compared to the lesson that we suppose to ponder regarding the story.). 
"Tapi kan perlu tau untuk.. (whatsoever reason)", adalah salah satu contoh pikiran perantara untuk mementing-mentingkan yang menarik, huu.

Tabiat ilmu itu berpayah-payah. Duluu, jaman mencari informasi masih susah, salah satu perjuangannya adalah harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkannya. Seperti Imam Bukhari yang rela berkelana jauh demi mendengar satu hadits. 
Sekarang, saat hampir segala informasi ada di ujung jari, mungkin salah satu kepayahannya ada di menahan diri dari memasukkan semuanya untuk dicerna, atau dikomentari. Mungkin kepayahannya ada pada kesabaran mengabaikan yang terlihat menarik, demi mencari yang penting, demi mengambil sarinya biar jadi ilmu yang berkah dunia akhirat. 

22 August 2015

Mudik 2015

(Hah, hari gini baru cerita soal mudik? Biariiiin :p)

Idul Fitri kemaren, tadinya kami nggak ada rencana mudik. Harga tiket pesawat menjelang lebaran tea kan indah banget ya. Indah banget dikali tiga orang itu sama dengan nanti lagi aja mudiknya. Sepi ya sepi deh lebaran di rantau lagi untuk sekian consecutive years. Lalu di suatu malam di bulan Ramadhan, selepas isya, tiba-tiba hati ini sedih pengen bermalam takbiran di Bandung. Hiks. Terus curhat aja sama Allah, minta tiket. Enggak ketang, minta pengen bisa malam takbiran di Bandung aja.  
Lalu keesokan harinya harga tiket mendadak turun! Not. :p
Sampai sekitar 2 minggu menjelang lebaran, nggak ada tanda-tanda yang berwenang (alias bapak fatwa) berubah pikiran untuk ngajakin mudik, yang artinya belum ada perubahan signifikan juga pada jumlah isi celengan :P. Ya wis lebaran di Malang ae wis. Permohonan ijin dilayangkan pada kanjeng ibu di Bandung untuk nggak mudik pas lebaran. Pengumuman juga disampaikan pada Bu Yati, yang bantuin part-time di rumah, bahwa kami akan tetap di Malang saat Idul Fitri (biar ga kelewat dikirimin opor dan ketupat haha). 
Apakah curhat pengen lebaran di Bandung masih terus dilangsungkan? Masiih.
Kemudian, beberapa hari setelahnya, "Bu, ada yang minta training nih di Jakarta. Seminggu sebelum lebaran", kata Aa. "Dibayarin tiketnya?", tanya si ibu putri. Maklum ya ibu-ibu ekonomis, pikiran utama tertuju pada siapa yang bayar tiket. "Iya, kita pulang aja yu sekalian", jawab yang dipertuan agung bapak fatwa. "Hah, aku sama Sorai juga dibayarin??", tanya si ibu putri lagi, entah polos banget atau ekonomis banget.  Ya menurut nganaaa. Tapi berarti tinggal pesen tiket buat 1 dewasa doang kan, ya sama bayi satu. Alhamdulillah.
Singkat cerita permohonan ijin pada kanjeng Ibu pun dibatalkan. Pengumuman ke Bu Yati juga direvisi, biar kirimannya jadi kue kering aja jangan opor hahaha. 
Kami pun pulang kampung, saya sama Sorai malam takbiran di Bandung, Aa nyusul sehari setelahnya. Lebaran ngumpul lengkap sekeluarga. Hiks. Hiks hiks hiks. Alhamdulillah. 


Allah bilang apa di Al Baqarah 186, Ti? Di antara rangkaian ayat tentang Ramadhan. 

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Terus Ath Thalaq ayat 3 isinya apa, Ti?

"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

Situ tawakalnya level pre-basic aja belum tentu masuk kan, tapi Allah kasih rezeki banyak banget kan, doanya Allah denger kan. Aduh mau nangis deh. Alhamdulillahirabbil 'alamiin. 
Mau doa lagi ya Allah, minta agar kami sekeluarga dimudahkan dan ditunjuki untuk bisa terus memperbaiki diri, mendekatkan diri dan belajar makin taat, dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan yang jauh lebih baik. Juga untuk saudara dan sahabat hamba semuanya ya Allah. Aamiin ya rabbal 'alamiin. 


Ini mau bilang selamat idul fitri kok ya terlalu banget telatnya. Syawalnya aja udah lewat buu.
Ya sudah karena bulan depan udah Dzulhijah, mau doain aja biar semua hati yang rindu ke Baitullah, Allah  undang dan mudahkan jalannya, untuk umrah dan berhaji. Aamiin.. :)

17 April 2014

The Big Loss

Catatan ini dibuat hampir enam tahun lalu, sambungan dari cerita tentang buku pemberian dari Pak Amien Rais lewat Laras.  Sedang perlu suntikan idealisme untuk menyusun proposal riset. Mencari dan menggali ide sambil ditemani anak bayi di perut yang seringkali ikut sibuk tendang-tendang kalau ibunya buka dan baca jurnal. Mengingatkan diri akan gambaran sosok yang dicita-citakan; mensinergikan peran untuk mendukung perjuangan suami, mengemban amanah profesi, sekaligus menjadi ustadzah di madrasah rumah. Bismillah.

***
Rabu, 13 Oktober 2008

Buku karya Amien Rais akhirnya selsai saya baca. Iya, bacanya memang lama banget, kemungkinan besar adalah karena perbedaan kapasitas intelektual dari penulis dan pembacanya, hyahaha.
Banyak sekali fakta yang baru saya ketahui setelah membaca buku itu, salah satunya adalah mengenai limbah tailing PT. Freeport yang volumenya sudah cukup untuk menutupi Jakarta, Depok dan bekasi dengan lumpur beracun setinggi 5 m (produktif sekali ya mereka! suruh dibikin pulau baru aja tu tailingnya, buat mereka tinggali sendiri!). Dalam buku itu dipaparkan mengenai banya(aaaaa)knya kehilangan yang telah diderita oleh bangsa ini akibat penjajahan korporasi asing, enaknya sih baca sendiri aja.. Banyaaakkk sekali soalnya, kalo saya rangkum khawatir ada fakta penting yang tidak tercakup. MARAH banget rasanya sama para pembuat kebijakan yang semenamena banget jual2in aset negara, KESELL sama para petinggi bertitel  doktor yang ironisnya mau2 aja dibodohi sama kaum kapitalis.

Tapi bahkan setelah sedemikian banyak kehilangan yang disebutkan pun, bukunya Pa Amien belum mencakup satu lagi kehilangan terbesar yang diderita bangsa ini. Bahwa korporasi asing bukan hanya menjarah kekayaan negara kita yang melimpah ruah, tapi juga menculik putra-putri terbaik bangsa; aset yang sesungguhnya teramat sangat berharga dan mutlak dibutuhkan untuk menyusun masa depan yang lebih baik.

Tercatat saat ini sudah 3 teman seangkatan saya di TL, para calon -sangat- kuat yang akan lulus dengan predikat cumlaude, telah menandatangani kontrak kerja dengan korporasi raksasa milik asing. Yang satu adalah peraih IPK tertinggi dan mantan mentri  di kabinet KM, yang satu meraih IP 4 saat dia menjabat wakil ketua himpunan, satu lagi langganan jadi ketua apapun, dengan prestasi akademik yang tidak tergoyahkan. Semuanya cemerlang di bidang akademik, dan tidak diragukan kapasitas kepemimpinannya. Semuanya diambil perusahaan minyak -dan kontraktornya- yang menjarah minyak di bumi kita.

Satu lagi teman SMA saya yang baru aja lulus dari Petroleum Engineering bulan Juli kemaren,
yang kapasitas di bidang ilmu eksaknya sangat2lah cemerlang..
yang sekali waktu pas SMA menjadi pahlawan penyelamat membebaskan saya dari amukan guru Fisika yang terkenal guaallak, gara2 saya ngga bisa ngerjain soal di depan kelas heu2. Dia maju menawarkan diri menggantikan saya dan mengerjakan soal dengan mudahnya..
yang konon melenggang tenang melewati ujian kompre di Teknik Perminyakan tanpa belajar..
yang tentu saja lulus dengan predikat cumlaude secara meyakinkan..
Ohya, dia pun seorang ketua angkatan. Dan yang se-qualified itu pun sekarang sudah direkrut dan diculik nun jauh ke Duri sana, markasnya salah satu 'penjarah' terbesar minyak negri ini. Waktu dia mau pergi, saya cuma bisa bilang 'Jangan betah2 ya! Kalo udah jadi kaya pindah aja, ke Medco gitu..'. Laporan terakhir sih dia bilang gamau lama2 di sana, yessss!! :D

Itu baru orang2 terdekat di sekitar saya, entah berapa ratus atau ribu lagi cerita yang serupa. Padahal ITB adalah salah satu institusi yang diharapkan bisa jadi pencetak orang2 berkualitas, yang kelak akan memperbaiki kondisi negara. Statusnya pun masih BHMN, yang mana berarti masih menerima subsidi dari pemerintah, yang mana berarti sebagian biaya kuliah mahasiswa2nya dibayar dari pajak rakyat. Terus mana bentuk tanggung jawabnya?
Ya tapi mereka tidak bisa disalahkan juga, namanya juga pilihan.. Perusahaan2 itu memang menjanjikan kompensasi yang (jauh) lebih baik untuk potensi dan kapasitas mereka, menjanjikan kehidupan yang lebih terjamin. Yah, apalagi untuk yang laki2 yang notabene punya tanggung jawab lebih untuk memenuhi kebutuhan materi keluarganya, ayah ibu dan adik2 saat ini, juga istri dan anaknya kelak. Saya sih perempuan, orangtua pun alhamdulillah tidak membebankan untuk segera bekerja (lagian sejauh ini saya memang tidak pernah merencanakan pengen kerja kantoran, hehe), jadi masih bisa beridealis2 ria memperpanjang status jadi mahasiswa :D.

Yang saya lakukan sekarang ya baru segitu2nya, mengingatkan para putraputri terbaik ini biar ngga lupa sama sodara2 sendiri.. Tapi tentu saja begitu doang mah ngga cukup. Sama sekali. Jadi ngapain dong nih kitaaaaa????

26 December 2013

Reaxys Prize 2014

(Posting ini panjang banget dan sepenuhnya curhat pribadi. Ngga usah dibaca deh, beneran. Saya posting untuk pengingat pribadi betapa sering saya dudul seperti ini, dan kalau ditaruh di draft pribadi seringkali tenggelam lalu hilang, lupa dibuka lagi. Tapi jikalau seandainya ada yang dengan ikhlas mau baca curhatan ini, semoga ada manfaat yang bisa dipetik dan dibawa di hati.)

Hadirnya Dede di hidup saya, ditambah sempat vakum dari dunia kampus selama 3 bulan sewaktu liburan kemarin membuat saya merasa cukup. Cukup dalam hal mengejar segala sesuatu yang bersifat ambisi pribadi. Sampai saya menerima e-mail dari Pak Guru seperti di posting sebelumnya (yang isinya sebetulnya jauuh lebih panjang, tapi saya edit karena terlalu personal :p), sedikit banyak semangat untuk meng-eksis-kan diri tumbuh kembali :p.

Beberapa hari setelah itu, ada satu e-mail di inbox saya yang menginformasikan tentang satu ajang lomba untuk penelitian doktoral di bidang kimia. Reaxys PhD Prize namanya, keren ya terdengarnya. Saya lalu semangat sekali mencari informasi lebih jauh. Dibaca sekilas, temanya cocok dengan bidang riset saya. Syaratnya pun nggak terlalu susah, cukup menjelaskan satu jurnal pilihan yang sudah dipublikasi, nggak perlu buat esai baru. Syarat lainnya hanya CV dan surat rekomendasi dari profesor. Pemenangnya akan dihadiahi sejumlah uang tunai, dan yang paling menarik untuk saya adalah bahwa 3 orang pemenang dan sekitar 40 orang finalisnya akan diundang untuk menghadiri Reaxys Conference 2014, juga tergabung dalam keanggotaan Reaxys Prize Club. Ini menggiurkan sekali (untuk saya) saudara-saudara! Kalau nggak malu saya ngiler beneran deh ngebayanginnya :p. Nggak berharap menang juga sih, karena kompetisi sekelas ini mestilah juaranya menakjubkan. Saya mau coba aja.

Baiklah, saya semakin semangat. Sudah intip-intip website-nya, sudah lihat komite juri-nya, sudah mau isi submission form-nya. Lalu mata saya  melirik satu opsi menu di website-nya untuk melihat pemenang dari tahun-tahun yang sebelumnya. Saya memutuskan untuk melihat dulu kualitas publikasi yang jadi juara.

Saya sudah ber-ekspektasi untuk melihat publikasi di jurnal semacam Nature dan Science dari juaranya, untuk mendapati bahwa tidak satu pun jurnal dari ketiga pemenang yang saya kenali.
"Hah, jurnal apa ini? Kok nggak pernah denger. Nggak sebagus itu juga ternyata publikasinya. Kalo kaya gini sih, kayanya saya juga bisa lah.", kata saya dengan menyebalkannya, mulai songong.
Kemudian dengan jumawa, saya masukkan nama-nama jurnal yang tidak saya kenal tadi ke search engine, untuk menemukan bahwa rata-rata jurnal ini memiliki impact factor di atas 10, hahahahaha..haha..ha..ha..ha.. (ini ceritanya tertawa miris sambil mulai mau pingsan. Saya submit ke jurnal yang impact factor-nya hanya sepersekiannya aja udah megap-megap). Belum puas, saya masukkan nama para pemenang di Scopus (database literatur yang peer-reviewed), dan melihat bahwa masing-masing jurnal dari para pemenang ini sudah di-sitasi sekian puluh kali. Saya mulai mencari bantal untuk pingsan, biar empuk. Lalu dengan sisa kekuatan, saya klik secara acak nama para finalis dari tahun-tahun sebelumnya, yang ternyata SEMUAnya punya publikasi di jurnal-jurnal mengerikan itu. Orang-orang ini sungguh terlalu, kalau waktu masih PhD aja publikasi mereka sekelas itu, mau jadi apa mereka setelah jadi peneliti betulan? 
Semangat saya untuk ikutan redup seketika, hilang semua rasa jumawa, lalu dengan pahit dipaksa mengakui bahwa diri ini hanyalah butiran debu (eaaa).      

Beberapa jam kemudian saya masih merasa kesel yang nggak jelas karena apa, sambil laporan sama Aa.

Lalu beberapa jam lagi dari beberapa jam yang tadi, saya baru sadar. Saya sudah sombong dan tenggelam dalam ambisi nggak jelas. Lagi.
Lupa bertanya sama diri ketika semangat kompetisi tiba-tiba muncul dan menguasai; untuk apa? Untuk siapa? Untuk Allah? Apa karena ingin bisa pamer? :'(  

Alhamdulillah kali ini segera diingatkan, dengan Allah tunjukkan orang-orang yang jauh lebih hebat di mata saya, dengan Allah tunjukkan bahwa saya sebetul-betulnya bukan apa-apa. Mau merasa sombong mah sana nyebur aja lah di Hirosegawa.
Semoga pertanda bahwa Allah masih sayang :'(.

***

Beberapa hari setelah itu adalah harinya mentoring. Materi mentoring minggu itu adalah tentang keinginan versus kebutuhan, yang dirangkai dengan  pembahasan surat Al-Hadiid ayat 20.
Dalam satu ayat ini, seperti dibahas di satu kajian tafsir, Allah dengan indahnya merangkum segala keinginan manusia, tahap demi tahap dari awal sampai sepanjang hidupnya. Dalam satu ayat saja, Allah menyebut hal-hal yang manusia kira akan mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya; permainan (la'ib), hiburan (lahwu), keindahan (ziina), memamerkan keberhasilan (tafaakhurum bainakum), dan membanggakan harta dan keturunan (takaatsurun fil amwaali wal aulaad). Lalu dijelaskan dan diingatkan bahwa sesungguhnya kesenangan setelah mendapat hal-hal ini adalah cepat sekali usang dan berlalu, rasa puasnya cepat sekali hilang. Kemudian di bagian akhir ayat ini, dijelaskan bahwa pada akhirnya nanti, hanya ada dua hal yang hakiki dan tidak pernah manusia akan merasa "bosan" atasnya; siksa neraka dan keridhaan Allah. Penutup ayat ini adalah pengingat, bahwa dunia hanyalah kesenangan yang palsu.

Astaghfirullah..

Alhamdulillah..

Bismillah..

Semoga Allah beri kekuatan untuk istiqomah bersungguh-sungguh lebih menata setiap keinginan. Aamiin.

***

P.S. Setelah ditelaah dengan hati yang lebih tenang, ternyata tema Reaxys Prize nggak cocok dengan riset saya, hahahaha. Tema untuk Reaxys Prize fokus pada sintesa material, sementara riset saya lebih cederung ke ekstraksi, hahahaha (lagi).

Jadi nyari kompetisi di mana lagi ya, De? *kemudian dijewer Ustadz Nouman :P*

22 October 2012

"Like Mother, Like Son"

Satu hari, waktu Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi di gurun tandus tak berpenghuni;

"Mengapa?", Siti Hajar meminta alasan mengapa ia dan Ismail ditinggalkan. Tapi Nabi Ibrahim berpaling, berjalan menjauh.

"Mengapa?", masih Siti Hajar berusaha; Nabi Ibrahim terus saja berjalan.

"Mengapa?", sekali lagi Siti Hajar bertanya, sekali lagi tanpa jawaban.

"Apakah ini perintah Tuhanmu?", Siti Hajar mengganti pertanyaannya. Nabi Ibrahim menghentikan langkahnya, berbalik, "Ya", jawabnya.

"Laksanakanlah, jika ini perintah Tuhanmu. Sesungguhnya Ia tak akan menyia-nyiakan kami", ucap Siti Hajar, dengan bayi Ismail dalam gendongannya.

***
Satu hari yang lain, belasan tahun kemudian;

Berkata Nabi Ibrahim pada Ismail, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?"

Kata Ismail?

"Wahai ayahku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah engkau akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Demikian jawaban Ismail muda yang shalih, didikan ibu yang shaliha. Demikian jawab Ismail muda yang shalih diabadikan dalam Qur'an, abadi sampai akhir zaman.

Shalawat dan salam untuk Nabi Ibrahim dan keluarganya, teladan abadi sepanjang masa.


 ***


Hai calon ibu yang ingin anak yang shalih; sudah sejauh mana mendidik diri? (tunjuk jidat sendiri)

21 May 2012

Home Alone

Sendiri di rumah ngga ada Aa adalah banyakan ngga enaknya. Segala macam pikiran berseliweran tanpa ada yang bisa diajakin ngobrol itu stressful sekali.
Kenapa orang Arab dari dulu nama2nya nggak banyak berubah? Kenapa senyumnya Monalisa segitu fenomenalnya (padahal menurut saya biasa aja)? Output terpenting dari pendidikan itu apa? Kenapa di Indonesia akses sekolah itu segitu terbatasnya sih? Lintasan-lintasan yang berujung tulisan setengah jadi yang lantas segera dihapus dari laptop. It is, super stressful. Kalau ada Aa, mungkin saya langsung cerita apa aja yang lagi lewat di kepala, saya juga nggak nyadar. Atau mungkin kalau ada Aa saya nggak sempat memikirkan segala macam, lebih sibuk siapin makan malem terus beresin rumah terus kecapean lantas tidur.
Untuk membuat kondisi semakin memuyengkan diri sendiri, adalah saya ini takut terhadap banyak hal. Produk-produk film horor Indonesia bisa  bikin saya melek sampai lewat tengah malam karena kalau merem langsung terbayang. Dan suara alert gempa yang dipasang di komputer dengan mudahnya bikin panik setengah pingsan, padahal nggak jarang cuma false alarm (nasib software gratisan). Kalau ada Aa, otomatis saya terbebas dari takut segala macem ini, tidur pulas ples karena ada Aa yang jagain.

Tapi, menyendiri bukannya bikin orang jadi sakti ya? Itu para Empu yang bikin keris waktu jaman kerajaan Majapahit kan di ceritanya pasti ada bagian 'ngelmu' di gua. Di cerita Samurai Jepang juga sama, pas bagian memperdalam ilmu ada bagian si Samurainya menyendiri, biasanya di gunung, kadang di bawah air terjun. Dan bukankah Rasulullah SAW juga sebelum diangkat jadi Rasul rutin menyendiri di Gua Hira kan, wahyu pertama pun turunnya waktu sedang menyendiri di sana.
Terus karena males sendirian di rumah saya mau sekalian kabur aja ke gua gitu? Meh, mana berani, haha. Maksudnya adalah, menyendiri ternyata salah satu bagian penting dari 'ritual' yang dilakukan orang-orang hebat. Menyendiri adalah kebiasaan orang-orang dengan bashirah -mata hati- yang tajam. Yang mesti saya cari tahu lebih lanjut adalah apa yang orang-orang ini lakukan saat menyendiri. Walaupun nggak di gua ya gapapa lah ya, level beginner dulu.

Nggak ada temen ngobrol, bukankah kesempatan baik untuk lebih banyak 'berbincang' denganNya? Sendiri sewaktu ketakutan, bukankan saat yang tepat untuk belajar hanya bergantung padaNya. Untuk menumbuhkan, melatih dan mempertajam keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Untuk menghayati pemahaman sederhana bahwa segala kejadian, semacam gempa misalnya, sepenuhnya sematamata ketentuanNya. Untuk belajar ridha, karena apa yang terjadi adalah atas kehendakNya, dan hikmah adalah hadiah untuk mereka yang berpikir sembari menjaga hati tetap husnudzan padaNya.
Bukankah saya (mengaku) mengimani bahwa Allah yang Maha Mendengar? Bukankan saya (merasa) meyakini bahwa Allah yang Maha Menjaga?

Allah, ampuni hamba yang masih lebih banyak lalai daripada ingat
Allah ya Waliyy, cukupkan hamba dengan penjagaanMu
Allah ya Qawiyy, beri hamba kekuatan agar tulisan ini tak sekedar tulisan hampa tanpa tindakan, karena sesungguhnya tiada daya selain dariMu
Segala puji hanya bagiMu ya Rahiim, yang memberi hamba suami penyabar dan amanah, menitipkan penjagaanMu melaluinya

A, berarti selama ini aku teh cerewet dan panikan pisan ya.. Maaf sering nggak nyadar >_<, maaf cerewet banget minta Aa cepet pulang,
terimakasih atas kesabarannya menjaga dan mendengarkan.
Semoga sabar atas jauhnya jarak sementara waktu ini, berbuah kebersamaan yang lebih sakinah nantinya. Aamiin.
Aku sayang Aa! :D

05 May 2012

Percaya diri?

Minggu lalu, ustadz Fauzil Adhim datang ke Sendai dalam rangka rangkaian acara pengajian dari Dompet Dhuafa cabang Jepang. Ustadz ini pakarnya pendidikan keluarga, dari pranikah sampai pendidikan anak. Dari sekian banyak isi pengajian, ada satu yang paling saya ingat: 

"Sebelum mendidik anak untuk percaya diri, dahulukan dan utamakan mendidik untuk percaya pada Allah."
 
Hal yang sama berlaku (lebih dulu) untuk diri sendiri (tentunya).

Percaya diri, kadang tipis bedanya sama sombong kalau hati nggak dijaga tunduk sama Allah. Di beberapa ayat Al-Quran disinggung tentang manusia yang merasa bahwa hal baik yang terjadi padanya adalah karena usaha atau kepintarannya sendiri; nggak menyadari bahwa kalau Allah nggak ridha, mau usaha jungkir balik kayak apa juga nggak akan terjadi. Surat  Az-Zumar ayat 39 misalnya.
Percaya diri, bisa jadi salah kaprah karena dasarnya nggak tepat. Merasa lebih pintar misalnya, atau lebih berpengalaman, atau lebih berharta, bisa mudah sekali menggelincirkan hati untuk jadi merasa lebih baik dari orang lain.
Percaya diri, mau nggak mau pasti terbatas, karena sekedar didasarkan sama kemampuan sendiri.

Maka cukupkanlah diri dengan percaya pada Allah, sumber kekuatan yang nggak terbatas, yang Maha Segalanya. Adalah berbekal kepercayaan pada Allah, Rasul dan para sahabat bertahan dalam kondisi serba genting di perang Khandaq; perut lapar, cuaca dingin, musuh menggempur tanpa henti, tanpa waktu istirahat bahkan untuk shalat. Adalah iman yang mantap pada Allah, yang menjadikan seorang bekas budak muslim berani dengan tegap menghadapi raja yang masih kafir, padahal bajunya usang dan penampilannya lusuh.
Belajar dari kalimat dalam adzan, ketika muadzin melafalkan 'marilah kita shalat', jawaban yang diajarkan bukanlah semacam 'saya pasti bisa!', tapi 'laa haula wa laa quwwata illaa billah'. Tidak ada daya upaya selain dari Allah. Jawaban yang sama untuk ajakan menuju kemenangan; tidak ada daya dan upaya selain dari Allah.

Mencukupkan diri dengan percaya pada Allah, menjaga hati untuk lebih terkendali, selalu tunduk padaNya. Sekaligus memampukan untuk menempatkan diri dengan lebih proporsional di hadapan sesama manusia; terjauh dari sombong, terhindar dari takut yang tak perlu.  

***

Wallahu a'lam bish shawab

26 March 2012

Tips Sehat Amien Rais

Kick Andy pekan lalu menampilkan Amien Rais sebagai bintang tamunya. Iyes, Amien Rais yang kecengan saya dari SMP ituh (maap ya, A! :P). Usianya sekarang 68 tahun, tapi masih terlihat super genki bin segar bugar.

Penasaran, saya tanya Laras, keponakan beliau;
"Ras, beliau makannya apa sih? 68 taun masih genki banget gitu :D".
Dugaan saya, Laras akan menjawab seputar makanan yang seimbang dan rajin olahraga. Tapi jawaban Laras ternyata:
"Rajin puasa daud dari dulu Teh.. Kalo lagi ada acara keluarga gitu meski makanannya enak2 juga tetep shaum, nanti makanan jamuannya suka dibungkusin."

Keplak! Ini pipi tiba-tiba kena tamparan virtual.
Usia sekarang berapa, Neng? Beda berapa puluh tahun sama Pa Amien? Saumnya apa kabar?

 >_<.

13 February 2012

Tentang Nikmat Ibadah

Di MQFM, tiap hari Senin pagi sekitar jam 8 WIB, ada kajian intensif soal Al-Quran. Satu kali ada seorang penelepon yang menanyakan gimana caranya biar bisa nikmat baca Al-Quran. Saya jadi keingetan, pernah juga punya pertanyaan yang kurang lebih sama, "Katanya solat itu nikmat, kok nggak kerasa sih? Katanya ibadah itu nikmat, emang gimana nikmatnya?".

Jawaban ustadz atas pertanyaan itu adalah, bahwa nikmat membaca Al-Quran adalah semacam amanah, dan amanah ini tentu hanya diberikan sama yang dinilaiNya layak. Jadi yang bisa kita upayakan adalah bagaimana caranya biar dinilai layak oleh Allah. Bisa dengan memperbanyak tilawahnya, menjaga kontinuitasnya, lebih khusyuk dalam membacanya, lebih sungguh-sungguh mempelajarinya, dan sebagainya.

Doweweweweww. Teringat solat yg cuma kayak jungkatjungkit. Ngaji yang kebut-kebutan pengen cepet selse. Dan lain lain. Dan lain lain. Dan lain-lain.
Nikmat ibadah bukan buat sembarang orang ternyata. Bertaubatlah engkau, Nak..

29 September 2011

"Nggak usah dibayangin"

Tersebutlah ada seorang teteh cantik yang pada waktu itu sedang sekolah pascasarjana, dengan kondisi memiliki seorang balita dan satu bayi lucu yang masih menyusui; sementara suaminya ditugaskan bekerja di seberang pulau. Berbekal heran dan takjub, bertanyalah saya padanya. 

"Teh, bisa ya sekolah sambil ngasuh 2 anak, jabaning suami teteh jauh.. Uti mah ngebayanginnya aja puyeng :D" 

"Ya memang nggak usah dibayangin,", jawabnya sederhana, "dijalanin aja :)". 

SLAP! 

Ampun Gusti, rumaos abdi sok riweuh nyalira, sibuk sama prasangka sendiri.. *nyengir malu*

25 August 2011

Saya sedang heran; sama diri sendiri. Bahwa kala berdoa, saya masih seringkali ragu untuk melafalkan mohon yang terbaik menurutNya. Kenapa? Karena saya seringkali lebih takut bahwa yang terbaik menurutNya akan tidak sesuai dengan harapan.
Mengapa tidak berprasangka bahwa yang terbaik menurutNya adalah jauh berlipat-lipat melebihi yang diharapkan?
Mengapa tidak yakin bahwa bila satu hal adalah yang terbaik menurutNya, maka itulah semutlaknya kebaikan?

Padahal Ia adalah sesuai persangkaan hamba-Nya.