08 March 2013

Random: Kafe

Sekilas update. Setelah Rina pulang, kembali saya sendiri menghadapi kerasnya kehidupan sekolah-tanpa-henti ini (tsahh). Kebetulan juga pekerjaan memang sedang banyak; satu konferensi minggu depan, satu konferensi bulan depan, rencana eksperimen selanjutnya untuk bab terakhir tesis (insyaAllah), dan draft tesis yang sama sekali belum tersentuh sementara jadwal pre-defense untuk kelulusan semester depan adalah tinggal sekitar tiga bulan lagi. Tiga hari kemarin saya jadi robot, non-stop pop-remix-chacha-dut mengerjakan empat presentasi sekaligus (anggap saja robot jaman sekarang rajin juga cek facebook dan twitter di sela-sela pekerjaannya :P).

Anyway, mari rehat sejenak dari pekerjaan-pekerjaan itu.

***

Kemarin, seorang teman bertanya, "Kamu tahu kafe? Bedanya apa sih sama restoran? Kalau mau makan kenapa nggak di restoran aja?".
Pertanyaan ini membawa saya ke beberapa tahun lalu, dimana kafe adalah salah satu tempat penting yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa memorable dalam perjalanan hidup saya. Kafe juga salah satu tempat saya mencari sunyi, ketika hidup sedang terlalu gemuruh. (Sementara itu tempat lainnya adalah Masjid Salman dan perjalanan angkot Dago-Kopo).
Saya tidak tahu persis kapan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kafe, juga tidak ingat kafe mana yang pertama kali saya masuki. Yang saya ingat sebagai 'pertama kali' adalah sore itu di Prefere, sama Puput. Entah apa yang kami bicarakan, walau biasanya, duduk sama Puput berarti saya lebih banyak ngangguk-ngangguk mendengar analisanya yang mendalam atas berbagai hal :). Yang membekas dari sore itu adalah tempat yang nyaman, sama Puput, dan segelas iced chocolate mint super enak sedunia.

Sejak itu, setelah tahu betapa nyamannya sebuah tempat bernama kafe, lebih banyak peristiwa yang saya alami di sana. Juga peristiwa dalam hidup sahabat-sahabat saya.
Partner utama ngafe selama itu adalah Acit, dengan topik bahasan yang selalu saja ada. Dari masalah kuliah sampai soal negara, dari curhat masa muda sampai rencana menjelajahi dunia. Seperti pagi itu.
Setelah tidak bertemu sekian bulan, pagi itu kami bertemu di Tokyo Station, ribuan kilometer dari rumah kami masing-masing. Tanpa acara kangen-kangenan karena memang tidak perlu. Tidak bertemu, kan tidak berarti tidak terpaut hati :). Selesai membersihkan diri setelah menempuh perjalanan semalaman dari kota masing-masing, segera kami mencari tempat untuk sarapan. Seperti sudah otomatis terprogram, tempat yang kami pilih adalah..kafe. Ditemani segelas cokelat dingin dan sepotong roti, topik kali itu adalah perkenalan Acit dengan lelaki yang sekarang menjadi suaminya :). Di tengah perbincangan seru itu, terselip percakapan yang menjeda;
"Kenapa sih, jauh-jauh ke Tokyo, ngobrolnya di kafe lagi? Hahaha.."
"Iya, nanti kalau ada yang tanya kayak apa rasanya Tokyo saat summer, kita jawab ademm.. soalnya cuma duduk di kafe. Hahaha.."

Jadi apa bedanya kafe dengan restoran?
Untuk saya pribadi, restoran adalah tempat yang dicari saat ingin makan, sementara kafe saya tuju ketika mencari hentian sejenak dan ingin tempat yang nyaman.  

     

3 comments:

zwartehondster said...

tuh berarti pilihan tepat kan main ke shinjuku. pasti kalian ngafe pas sy sama ammy hunting gedung yaaa ;P

Puput Hidayat said...

"walau biasanya, duduk sama Puput berarti saya lebih banyak ngangguk-ngangguk mendengar..."

errr... jadi merasa bersalah gw... maafkan ya uti...-_-

putri setiani said...

Teh Tipa, itu mah pas nungguin Teh Tipa sama Ammy dateng.. Tapi pas nunggu di shinjuku juga ngafe lagi deng :P. Woaaah, kapan dan di mana ya bisa ngumpul barengan lagi :D

Puput, nooo.. I mean I listened and enjoyed your analysis on any random things, hahaha :D