13 November 2019

Ruang untuk Emosi (dan Poligami?)

"Jangan marah pada mereka yang marah karena cinta", begitu judul keping tulisan dari buku "Sunnah Sedirham Surga" yang kesannya begitu mendalam untuk saya. Buku ini ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah. Keping ini mengisahkan dua peristiwa, hijrahnya Siti Hajar dan bayi Ismail as. yang dipicu oleh kecemburuan Siti Sarah; dan peristiwa A'isyah ra. melempar piring hidangan di hadapan tamunya Rasulullah SAW.

Kisah-kisah tersebut pernah saya baca/dengar sebelumnya, masing-masing kisah di waktu dan kesempatan yang terpisah. Namun, pertanyaan yang sama terlintas di benak; "kan.. istri nabi. Kok gitu?"

Di buku tersebut , Ustadz Salim menceritakan juga detil bagian yang baru saya ketahui.
Kecemburuan Siti Sarah begitu besar, yang termanifestasikan menjadi kemarahan, hingga pada tahap yang membahayakan. Salah satunya misalnya, Siti Sarah bersumpah akan memotong tiga bagian tubuh Siti Hajar.
Pada kisah A'isyah, yang terjadi adalah Rasulullah saw. kedatangan tamu ketika beliau sedang giliran berada di rumahnya. Menjamu tamu Rasulullah saw. adalah sebuah privilege, maka ketika ia mengetahui ada istri lain yang menyiapkan dan menyajikan makanan jamuan, marahlah A'isyah ra. hingga melempar pinggan, langsung di hadapan mereka yang sedang bertamu.

Lintasan di benak saya berulang, dan malah bertambah. "Kan.. istri nabi. Kok gitu?". Bukan pula sembarang nabi, tapi dua manusia yang paling Allah kasihi sepanjang masa. Yang satu bergelar bapak para nabi sekaligus khaliilurrahman, yang lainnya adalah manusia yang pujian atas akhlaqnya bertaburan disebutkan dalam Al-Qur'an.

Apakah Nabi Ibrahim as. merasakan kemarahan di hatinya? Wallahu a'lam. Yang pasti, selanjutnya Allah memerintahkan beliau membawa Siti Hajar dan Ismail as. yang masih bayi untuk hijrah ke tengah padang pasir, tak berpenghuni, tanpa sumber air.
Apakah Rasulullah saw. merasakan kemarahan di hatinya? Wallahu a'alam. Yang pasti, diceritakan dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah saw. mengumpulkan serpihan piring yang pecah, juga makanan yang jatuh, sambil berkata "ghaarat ummukum", "ibu kalian sedang cemburu".

Sejauh saya mencari, tidak ada hukuman untuk Siti Sarah, mohon koreksinya bila kurang tepat. Pun tidak tersebut kalimat hardikan untuk A'isyah ra. Kenapa? Apakah tidak perlu didisiplinkan?

Lalu saya tercenung pada judul yang dipilih, "jangan marah pada mereka yang marah karena cinta". Melalui kedua kisah agung ini, diteladankan bahwa dalam Islam, panduan hidup yang sempurna untuk fitrah manusia, emosi diterima. Tidak melulu dibenarkan, tapi diterima. Teladan ini mengakui bahwa emosi adalah bagian dari diri manusia, terlebih pada perempuan. 

Ingatan saya terbang pada berbagai teori tentang mendidik anak, juga tentang berbagai teknik self-healing. Apa poin esensial yang disebutkan pada kedua topik yang sama-sama membahas tentang pengasuhan jiwa manusia ini?
Terima emosinya. Terima emosinya. Terima emosinya. 
Barulah beranjak pada langkah selanjutnya, tentang menyalurkannya dengan sehat dan aman. 

Apakah menerima emosi perkara mudah? Tidak, terutama pada kondisi si penerima emosi sedang tidak khusyu', tidak tersambung dengan Allah. Sangat mudah untuk malah terpancing dan membalikkan emosi dengan pantulan serupa, kemarahan hebat. Atau berdalih "mendidik dan mendisiplinkan", padahal hati masih dipenuhi kebencian dan kemarahan balasan. 

Tapi apakah itu yang dicontohkan? Bukan.

Saya membayangkan fragmen A'isyah ra. membanting pinggan di hadapan tamu suami yang notabene pemimpin dan teladan tertinggi kaumnya. Bayangkanlah seorang ibu negara yang meledak marah di hadapan duta besar negara tetangga. Apa yang terjadi kira-kira? 
Bahkan jika tanpa mempertimbangkan kedudukan Rasulullah saw., kejadian seperti ini pasti sangat mengusik ego suami. Saya membayangkan, kesabaran dan pengendalian diri sekualitas apa yang dikuasai oleh Rasulullah saw. hingga mampu bertindak setenang yang diceritakan hadits yang menyejarah.

Saya membayangkan Nabi Ibrahim as., yang sebagai laki-laki tentu didominasi logika dibanding emosi. Perintah memindahkan istri dan anak yang masih bayi ke tempat yang berbahaya, "semata-mata" karena kecemburuan istri yang lain itu di mana logisnya? 
Maka kesabaran dan pengendalian diri sekualitas apa yang dikuasai oleh Nabi Ibrahim as., hingga akhirnya beliau membawa Siti Hajar dan sang bayi berjalan sedemikian jauh, lalu meninggalkan mereka begitu saja, bertahun-tahun, menyimpan rindu?

Mahal sekali harga "menerima emosi" ini.

Namun sungguh Allah Maha Penyayang, Maha Lembut, Maha Adil. Untuk sesuatu yang sulit, maka balasannya pasti berlimpah.

Dari kisah A'isyah ra. di atas, hadits lain terjelaskan dengan sangat nyata; “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”. Di akhirat nanti, untuk setiap suami yang mencontoh teladan ini, untuk Rasulullah saw.-lah terkumpul balasan terbaik.

Dari kisah Siti Hajar dan Nabi Ibrahim, bermulalah kehidupan di padang gersang yang saat ini bernama Mekah, tempat kiblat utama umat Muslim, tempat jutaan manusia berlari-lari kecil meniru langkah Siti Hajar, tempat jutaan manusia meneguk minum dari sumur zam-zam; setiap detik, sepanjang tahun, tanpa henti. Bahkan dari sumpah Siti Sarah pun saat ini menjadi sunnah; memotong tiga bagian tubuh; menindik kedua telinga, dan khitan untuk wanita. Di akhirat nanti, pada beliau-beliaulah para manusia pilihan Allah, balasan kebaikan ini terkumpul paling banyak.

Islam memberi ruang untuk luapan emosi. Tidak melulu membenarkan, tapi kita diteladankan untuk menerima. Bahwa untuknya diperlukan kesabaran yang tidak main-main, itu benar. Dan balasan atas kesabaran itu pun insyaAllah dilipatgandakan.

 ***

Isi kepala saya terbang lagi ke hal lain, karena hal yang beberapa waktu terakhir kembali terangkat, juga masih berkaitan dengan kedua kisah di atas.

Kemarahan Siti Sarah dan A'isyah, sama-sama dicetus oleh kecemburuan, terhadap istri lain dari suaminya. 
Poligami. Ia adalah bagian dari syariat, kebolehan dalam Islam; yang hadir untuk mengatur apa-apa yang sebelumnya belum diatur, membatasi yang tadinya tidak terbatas. Dua kisah di atas menggambarkan, bahwa bahkan pada kisah para lelaki dan para wanita yang paling shalih, poligami memiliki tantangan tersendiri. 

Islam mengatur dan membolehkan. Bukan memudah-mudahkan.

Sudah. Perihal poligami, aliran pikiran saya berhenti di sini. 
Tadinya rasanya banyak yang ingin ditulis tapi tiba-tiba mandek, qadarullah. Semoga ini penjagaan Allah agar saya tidak menulis mengarang semaunya tanpa ilmu.

Shalawat dan salam untuk dua teladan abadi;

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala ali sayyidina Ibrahim.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil, wallahu a'lam bish shawab.

15 July 2019

Hari Pertama Sekolah

Sorai bangun pagi dengan agak drama dan sedikit derai air mata, "ga mau sekolah Bu, mau di rumah aja". As expected. Anak ibu yang highly sensitive ini butuh waktu untuk masuk dan merasa nyaman di lingkungan baru. Persis emaknye. Alhamdulillah Ibu sedang dikaruniai mode agak solehah, ga pake marah-marah.

Setelah photo session yang tentu saja ga berhasil karena anaknya manyun, berangkatlah Sorai dianter sama Bapaknya. Ibu di rumah nemenin Ade sambil nyiapin sarapan terus yoga (ciee, padahal cuma 10 menit). Hari pertama ini masih sampe jam 9.30 aja, jadi agak reugreug untuk ga nemenin. Rencananya jam 9-an aja berangkat jemput dari rumah, karena sekolahnya 10 menitan aja dari rumah.

Namun rupanya, Bapaknya pulang dan memberitakan bahwa anaknya ga mau dipegang sama Bu Guru, nangis pas ditinggal pergi dan sempet mimisan. Tentu saja ibu langsung gedabrukan siap2 ke sekolah. Ustadzah ga sampe kirim pesan via WA berarti masih terkendali sih, tapi tetep aja ga tenang. 

Sampe sekolah, selesai ngurusin administrasi, Ibu duduk di mesjid yang tepat di bawah kelasnya Sorai. Jadi sekolahnya itu bangunannya nempel sama mesjid. Kelasnya Sorai kebetulan pas di atasnya mesjid. 

Kondisi hari pertama sekolah di TK A ternyata cukup ganas ya, teriakan dan tangisan histeris membahana dimana-mana. Ibu langsung bersyukur Allah nggak mengabulkan keinginan yang dulu sempet terlintas untuk jadi guru TK. Cukupklah Ibu jadi guru TL. Ngadepin mahasiswa aja masih suka nggak sabaran.

Di sisi lain, Ibu juga khawatir kondisi Sorai. Berisik di rumah yang kata Ibu suka bikin pusing, ternyata ga ada apa-apanya dibanding berisiknya anak-anak usia TK yang sebagiannya baru pertama kali jauh dari ibunya. Jeritan anak-anak, masih ditambah teriakan guru-guru manggil nama anak yang melakukan hal berbahaya. Ibu khawatir Sorai kaget atau agak tertekan. Sebagai manusia yang sama-sama wired sebagai highly sensitive, Ibu bisa ngebayangin yang dihadapi Sorai ini stimulasi level tinggi. 

Sambil duduk, Ibu kembali berdoa, doa yang sama dengan yang dirapalkan ketika usap-usap kepala si Anak Langit sebelum bobo di malam sebelumnya. Ibu mohon penjagaan terbaik dari Allah untuk anak-anak ibu, mohon pendidikan terbaik. Mohon agar Sorai ditenangkan hatinya, mohon agar Sorai bisa seneng di sekolahnya. Mohon agar Allah meridhai pilihan ini, sebagai ikhtiar dan langkah awal untuk Sorai belajar ilmu-ilmu-Nya.

Jam di mesjid akhirnya nunjukin angka 9:30, anak-anak mulai turun. Ibu keluar mesjid, nunggu di bawah tangga. Sorai turun, terus senyum waktu liat ibu. Habis peluk, walaupun kepo maksimal, ibu belum berani nanya gimana sekolahnya karena khawatir Sorai masih overwhelmed dengan pengalaman barunya. Ternyata testimoninya muncul sendiri, "Tadi seru, Ibu! Abang main kereta-keretaan, panjang banget.". 
Ngek. Ibu mah dikasih kalimat segitu aja udah pengen cirambay. 

Sorai lanjut cerita, ada anak yang dorong-dorong dan pukul anak lain, terus langsung dilarang sama ustadzah. Habis itu main perosotan. Bekal makannya habis.
"Sekolahnya seru?"
"Seru!"
Alhamdulillah nuhuuun ya Allah..

"Besok berangkatnya jangan nangis lagi ya Bang?"
(anaknya diem dulu) "Tadi abang nangis karena sedih sedikit Bu"
Ah, Ibu baru sadar mungkin permintaannya masih terlalu besar. Besok kita minta lagi sama Allah supaya sekolahnya menyenangkan dan ilmunya berkah dan bermanfaat ya Nak. Besoknya lagi juga sampe seterusnya.

Hari ini Abang keren. Ibu bangga sama Abang. Papa sama Ade juga mesti deh.
Alhamdulillahi bi ni'matihi wa tatimush shalihat..



14 July 2019

Mama

Mama adalah ibu mertua yang, qadarullah, tidak terlalu lama kesempatan saya mengenalnya. Beliau, dalam satu kata, adalah penyayang. Lembut hati dan amat penyayang. Juga jago masak.
Saya tidak pandai menyesuaikan diri dengan orang yang lebih tua, tapi entah kenapa sejak pertemuan pertama, saya merasa nyaman berinteraksi dengan Mama. "Nggak tau nanti apa Putri jodohnya sama Dani atau bukan, tapi Putri udah Mama anggap anak sendiri", kata beliau di awal-awal pertemuan kami.

Beberapa bulan sebelum saya menikah, ketika saya sedang menyelesaikan tesis di Bandung, Aa sakit cukup lama di Jepang. Siang itu Mama telepon saya, minta tolong ikut ingatkan Aa untuk jaga kondisi biar cepat sehat, lalu beliau menangis, tumpah kekhawatiran terhadap sulungnya. Saya hanya bisa diam, menyimak bahasa cinta Ibu yang tidak bisa disampaikan langsung pada anaknya.

Selepas menikah, beberapa kali saya menginap di rumah beliau, melihat Mama yang membaktikan sebagian besar hari-harinya untuk keluarga. Sesekali kami mengobrol berdua saja di kamar, saya mendengarkan Mama cerita tentang masa kecil Aa, atau menyimak nasihat-nasihatnya. Saya ingat Mama sering bilang, "Mama selalu bilang sama anak-anak mama, sama Dadan, sama Dede, biar jangan pernah nyakitin istri. Kalau kalian nyakitin istri, sama artinya kalian menyakiti Mama". Dalam kalimat sederhana itu, saya merasakan kasih sayang Mama untuk kami para menantunya, yang belum begitu lama beliau kenal.

Setahun setelah menikah, kami yang sedang di Jepang menerima kabar mengejutkan, Mama terkena kanker, sudah stadium II B. Beberapa bulan setelahnya Aa beberapa kali kembali ke Indonesia, berbagai pengobatan diupayakan, tapi kondisinya tidak kunjung membaik. Lalu siang itu kami dikabari, kondisi Mama sudah kritis. Tanpa pikir panjang kami segera mencari tiket pulang, berangkat hari itu juga. Sampai di rumah, kondisi Mama sudah sangat lemah, lebih banyak tidak sadar. Ketika kami tiba, Mama sempat siuman sejenak. Saya mencium tangannya, saat beliau berkata "Putri, cantik sekali Nak..".
Itu, rupanya, adalah kalimat terakhir yang beliau tujukan untuk saya. Setelahnya beliau kembali tidak sadar, dan beberapa hari kemudian berpulang.

***

Kalau lihat Sorai main, ada kalanya saya teringat Mama, membayangkan betapa Sorai pasti sangat disayang dan dimanja oleh beliau. Sesekali juga bermimpi tentang Mama, rasanya damai. Saya nggak berani cerita sama Aa kalau sedang ingat Mama, pasti langsung sedih karena Aa dekat sekali sama Mama (Aa, ga usah baca post yang ini ya, hehe). Kalau sedang kangen, saya minta Aa telepon adiknya Mama yang mirip dengan beliau. Mendengar suaranya seringkali cukup untuk menenangkan hati.

Siang ini, entah kenapa rasa kangennya banyak sekali. Air mata tidak mau berhenti mengalir selepas Dzuhur tadi. Semoga Allah memberi ampunan dan memuliakan kedudukannya. Semoga kelak kami bisa berkumpul kembali dalam ridha-Nya. 

(Jumat, 10 Februari 2017)

21 April 2018

Buku-Buku Maret 2018

Buku-buku bulan ini masih disponsori oleh aplikasi iPusnas dengan tambahan buku yang dibeli dengan diskon imlek dari Google Play, 90% dan 85%! Walbiyasha.
Nggak ada diskon lagi nih, Google Play? Nggak ada banget? Banget banget?

1. Rectoverso (Dee) - selesai
E-book, pinjem di iPusnas

Waktu kuliah, serial supernova saya masukkan kategori wajib baca. Tapi entah kenapa, hati tidak tergerak untuk baca bukunya Dewi Lestari yang ini. Lalu kemarenan itu iseng jalan-jalan di iPusnas, liat buku ini, "eh, kok nggak ada antrian? Cingan coba pinjem. Eh bisa!". Jadi baca deh.. Begitulah.
Bukunya Dewi Lestari mah bahas apanya atuh ya, bagus mah ya nama penulisnya pun sudah jaminan lah, kualitas terjaga. Yang menjadi highlight untuk saya adalah personal experience saat membacanya. Buku ini, secara intensif membahas tentang perasaan, mengupas apa yang tokoh-tokohnya rasakan di berbagai kejadian. Halaman demi halaman dibuka, eh tapi ini kok agak memaksakan diri sih buat nerusin baca? Lalu barulah tersadar bahwa ternyata topic of interest bacaan saya sudah bergeser..
Jaman bareto, bahasan abstrak seperti perasaan ini adalah santapan nikmat untuk si jiwa melankolis, sekarang mah asa rada rieut bacanya XD. Lebih senang baca yang real dan evidence-based saja lah. Yang pasti bukan karena isinya yang nggak bagus sih. Sayanya aja yang sudah terpapar realita hidup (ibu-ibu), diajak menyelami perasaan mah, ah tos teu ngartos we sawios.

Personal score: 3.7/5

2. The Gene, An Intimate History (Siddhartha Mukherjee) - selesai, FUAH! Akhirnyah!
Versi cetak beli di BBW

Bagian akhir dari buku ini membahas tentang teknologi DNA sequencing yang udah bisa membaca adanya kemungkinan penyakit dari kode DNA pada embrio (bahkan pada usia janin yang baru beberapa minggu), terutama untuk penyakit yang sifatnya high penetrance; maksudnya, keberadaan (kelainan) kode DNA tertentu kemungkinannya tinggi untuk menjadi pemicu timbulnya penyakit di kemudian hari, apalagi kalau ditambah dengan adanya garis keturunan yang memiliki sejarah sakit yang sama. Contoh penyakit yang termasuk kategori ini diantaranya down syndrome, breast cancer dan alzheimer.
Bab terakhir buku ini judulnya Post-Genome. Jadi, sejak awal tahun 2000an, para geneticist terkemuka di seluruh dunia bekerja dalam sebuah proyek raksasa bernama The Human Genome Project (a bit of tangent, this project inspired the title of "The Rosie Project" novel). Proyek ini inti pekerjaannya ada menerjemahkan seluruh kode genetik yang ada pada tubuh manusia, mengetahui fungsi apa yang diregulasi oleh setiap rangkaian kode DNA. Bahasan post-genome mempertanyakan apa yang akan dilakukan oleh manusia setelah nanti tau keseluruhan isi tubuhnya. "Oke, sekarang kita udah tau seluruh komponen dasar penyusun tubuh kita, sudah tau kalau mau memodifikasi fungsi yang ini, yang mesti diubah adalah kode DNA yang itu. Terus apa?".
Roughly saying, secara ilmu pengetahuan, teknik modifikasi genetika sudah memungkinkan (setidaknya dasarnya sudah ada, dan pengembangannya terus dilakukan) untuk melakukan intervensi terhadap bagian apa pun dari tubuh manusia. Pertanyaan selanjutnya, pengetahuan ini mau dipakai untuk apa? Apakah setiap embrio yang diketahui memiliki kelainan akan dieliminasi? Apakah manusia akan diberi kebebasan untuk memilih komposisi karakter apa yang diinginkan dari keturunannya? Dan, salah satu pertanyaan yang paling penting, aturan dan etika seperti apa yang perlu dirancang agar umat manusia tidak sampai menghancurkan dirinya sendiri?

Dari sisi lain, buku ini menarik karena menyajikan temuan-temuan ilmiah di bidang genetika dari sudut pandang kisah orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Cara penceritaan seperti ini ditemui juga di buku pop-sci lain yang menang Pulitzer. Efeknya adalah topik yang diceritakan terasa lebih membumi dan manusiawi, kalau dibandingkan dengan hanya membahas objek penelitiannya.

Personal score: 4.2/5

3. Origin (Dan Brown) - selesai
Versi e-book beli di Google Play (pake diskon imlek dong tentu~) Waktu milih kategori buku fiksi, novel ini saya beli dengan pertimbangan.. harganya paling mahal, hehehe. Alasan lainnya, adalah karena pernah dibahas selintas oleh Ust. Salim A. Fillah. If he made time to read this in the midst of his tight schedule then it has got to be worth it, so I suppose.

Terus gimana, seru? Baaangeeeeeet.

Posisi teratas novel genre sci-fi (versi saya), yang tadinya diduduki Quantum Lens (Douglas E. Richard), langsung direbut oleh buku ini. Dibanding judul-judul novel Dan Brown sebelumnya, Origin ini yang paling keren dan paling menghanyutkan saat bacanya (of course availability bias might interfere my opinion, but anyway..).
Kisahnya adalah tentang seorang teknokrat yang sangat ahli di bidang modeling matematis, kredibilitasnya meroket karena prediksinya tentang kondisi ekonomi regional (atau global?) berulang kali terbukti akurat. Konflik utama dari buku ini adalah ketika si teknokrat membuat model yang menjawab dua pertanyaan utama umat manusia:

From where do we come from? 
Where are we going? 

Hasil modelingnya, dikisahkan akan mengubah total persepsi diri manusia dan menggoyahkan "dogma agama". Prediksinya apa? Nah, bagian ini seru banget. Plausible and heavily fact-based. 

Poin plus-plus dari novelnya Dan Brown adalah bahwa hasil penelitian yang dinukil itu betul-betul ada, latar tempat juga nyata dan digambarkan dengan sangat detil, jadi sambil baca rasanya sambil belajar sekaligus jalan-jalan. Di buku ini, topik bahasannya luas banget, dari big bag, evolusi, genetika, entropi, seni, dan yang paling dominan adalah bidang artificial intelligence. Plotnya sedap, dramanya juga pas sebagai bumbu dan ga berlebihan. Pas akhirnya sampai ke halaman terakhir buku, saya menarik napas panjang; antara kehilangan karena bukunya udahan sekaligus lega karena konfliknya selesai. 
Super. 

Personal score: 4.8/5 

4. Sapiens, A Brief History of Humankind (Yuval Noah Harari) - halaman 200an dari 280an 
E-book, beli di Google Play

Buku ini, udah lamaaa banget ada di wishlist, hampir 3 tahun. Bolak-balik cek stok di Periplus tapi belinya nggak jadi-jadi, karena terselingi baca buku-buku yang dibeli di BBW. Maka, ketika ada diskon yang di Google Play itu, buku ini otomatis jadi judul pertama yang terlintas. Dicari.. dicari.. dan akhirnya dapet versi bundling (sama Homo Deus) dengan harga nggak sampai 30 ribu rupiah! Brb ambil tisu nangis terharu.

Lalu setelah sekian lama tertunda dan menanti untuk ketemu, apakah buku ini worth the wait? 
Yes. Yes yes yes. 

Buku ini adalah jenis buku langka yang bisa mengubah/memperkaya perspektif tentang hal-hal yang mendasar; tentang sejarah kehidupan, tentang umat manusia, tentang diri. 
Salah satu bahasan yang menarik di bagian awal, adalah tentang posisi Hominid (genus Homo, Sapiens adalah salah satu bagiannya) pada rantai makanan. Dari sudut pandang kajian evolusi, Hominid ada pada satu kelompok besar dengan primata. Secara umum, primata ini kelasnya kan sedang-sedang saja, bukan predator kelas atas, bukan juga mangsa lemah yang ada di kelas terbawah. Sampai hari ini, primata lain (seperti monyet, orang utan, gorila) juga kelasnya masih ada di tengah untuk rantai makanan. Tapi sesuatu terjadi pada Sapiens, sebuah titik perubahan yang diistilahkan sebagai cognitive revolution. Apa penyebab cognitive revolution? Kalau dari bahasan evolusi sih ya hasil random event aja, purposeless sebagaimana yang terjadi pada seluruh makhluk di muka bumi. Setelah titik ini, Sapiens jadi memiliki kemampuan untuk memanipulasi lingkungan dengan level yang belum pernah sanggupdilakukan oleh makhluk yang pernah ada sebelumnya. Salah satu kunci dari kemampuan ini, adalah pada keterampilan komunikasi yang kompleks, bahasa. Kunci lain, adalah "penguasaan" api, kontrol energi
Setelah terjadinya cognitive revolution, tahap demi tahap Sapiens naik kelas, hingga akhirnya menempati puncak rantai makanan. Proses naiknya Sapiens ini, untuk skala waktu evolusi, terjadi waktu yang sangat cepat sehingga tidak memberikan kesempatan bagi hewan lain, dan planet bumi secara umum, untuk beradaptasi. Hasilnya? Diawali dengan kepunahan dari banyak jenis hewan raksasa. Kedatangan Sapiens ke suatu lokasi baru, diikuti dengan punahnya hewan-hewan raksasa yang kemungkinan diburu, baik karena dianggap bahaya atau karena dijadikan bahan makanan. Hewan raksasa kan mudah terlihat ya, jadi sasaran empuk. Sementara hewannya sendiri belum sempat beradaptasi dengan keberadaan makhluk dengan ukuran badan jauh lebih kecil tapi ternyata sangat berbahaya. Sebagai gambaran, mungkin dikiranya ketemu sejenis monyet yang bukan merupakan ancaman untuk mereka gitu, sehingga hewan-hewan ini tidak mempunyai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi Sapiens. Fakta pendukung untuk hipotesa ini, adalah bahwa fosil hewan marsupial raksasa termuda di Australia dan fosil hewan pengerat raksasa termuda di Amerika, usianya tidak jauh dengan jarak kedatangan Sapiens pertama kali ke dua benua tersebut. Permasalahan ini tidak berhenti di kepunahan hewan raksasa, banyak kasus unsustainability yang kemudian menjadi akibat dari "terlalu cepatnya" Sapiens naik ke puncak rantai makanan. 

Bahasan untuk setiap tema tidak terlalu mendalam, ya judulnya juga brief history sih.. Tapi cukup jelas untuk menggambarkan masing-masing peristiwa penting dalam sejarah umat manusia, sekaligus kaitan antara satu fenomena dengan yang lainnya. 
Satu hal lagi, buku ditulis dengan logika yang solid sekaligus (untuk kategori non-fiksi) alur yang menghanyutkan. Di sisi lain, sudut pandangnya hanya menganggap real hal-hal yang empiris. Nggak empiris? Ya nggak real, semata hasil imajinasi manusia. Di beberapa bagian, saya sampe baca ta'awudz berkali-kali XD, biar nggak sembarangan terbawa arus pemikiran penulisnya. 

Personal score: belum ada karena belum selesai


26 March 2018

Buku-buku Februari 2018

Experience membaca dari buku cetak itu, feel-nya masih belum bisa tergantikan. Tapi sungguh saya berterimakasih pada penggagas e-book dan para pembuat aplikasi yang menjadikan baca e-book juga bisa dinikmati. E-book ini penyelamat (literasi) ibu-ibu sok riweuh yang seringkali baru sempat baca setelah seisi rumah pada bobo dan lampu udah mati semua. 

Jadi bulan kemarin baca buku apa aja?


1. Kesturi dan Kepodang Kuning (Afifah Afra) - selesai
Fiksi, e-book hasil pinjem di iPusnas. 

Baca buku ini setelah terjeda bertahun-tahun dari terakhir baca buku karya Afifah Afra. Kesannya, hmmm apa ya lupa haha. Light reading, dibaca dalam rangka pengen nyobain aja baca buku pake aplikasi iPusnas yang baru di-download. So yeah, no particular discussion for this book.

Personal score: 3/5

2. Muhammad, Generasi Penggema Hujan (Tasaro GK) - selesai
Fiksi berdasarkan fakta sejarah, e-book pinjem di iPusnas

Seri terakhir dari tetralogi terkait sirah nabawiyah yang ditulis oleh Tasaro ini mengisahkan tentang periode kekhalifahan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, periode yang paling menggelisahkan hati dari masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. 
Buku ini tentunya tidak bisa dijadikan referensi sejarah, karena memang penulisnya juga bukan membuatnya untuk jadi rujukan. Tapi bentuknya yang berupa novel punya kekuatan lain yang sulit dihadirkan oleh buku referensi; kekuatan mengikat emosi. Kalau emosi sudah terlibat dan terikat, pembaca lebih mudah diantarkan untuk membaca rujukan yang terpercaya tentang topik yang dibahas. Saya rasa ini juga yang menjadi salah satu tujuan penulisnya.

Personal score: 4.6/5 

3. The Gene (Siddharta Mukherjee) - halaman 422 dari 500-an 
Non-fiksi, buku cetak

Februari ini udah lupa deh bulan ketiga atau keempat baca buku The Gene, hahaha. Faktor utama penyebab lambatnya adalah aspek fisik, bukunya setebal lebih dari 500 halaman dan hardcover. Waktu yang memungkinkan untuk baca buku ini adalah beberapa menit me-time di pagi hari sebelum anak-anak bangun, jadi ya.. 
Buku ini adalah salah satu judul yang saya pilih sebagai upaya rekonsiliasi hubungan saya dengan sains dasar. I believe I (and the curriculum, at least those applied at the schools I attended) approached basic science wrongly, as the study was intended only to pass exams and not to understand how the nature really works.
Setelah sebelumnya belajar ulang konsep-konsep dasar fisika dan elemen penyusun alam semesta dengan baca The Fabric of The Cosmos (Brian Greene), untuk kenalan lagi dengan biologi dan penyusun dasar makhluk hidup saya baca buku ini yang masuk top 10 popular science book versi Bill Gates. The reading process of this kind of books could be painful at times, there were some moments when I could just stare blankly at the words on the opened pages because the topic was way above my understanding level. But the sacrifice (i.e. the intention and times I invested to keep reading) really pays off. Though at the end of the book I still couldn't comprehend a lot of things that is discussed, my literacy increase along with my curiosity; and the topic that ignites my interest has been notably expanded. 

Okay, back to The Gene. Buku ini membahas sejarah perkenalan (dan pemahaman) manusia dengan bidang genetika, dari bibit pertama pea beans yang ditanam Gregor Mendel sampai teknologi genetic sequencing-modification yang ada saat ini. Topik bahasannya banyak sekali yang menarik (no wonder, tebalnya aja kan segitu ya), tapi yang paling membekas sejauh ini ada dua; eugenics dan epigenetic. Apakah itu? 

Eugenics
Eugenics, roughly interpreted, adalah tentang pemilihan sifat-sifat terbaik manusia (sekaligus eliminasi sifat-sifat yang dianggap lemah) yang diwariskan ke generasi selanjutnya (secara biologis). Para racist menggunakan istilah ini untuk menjadi "pembenaran ilmiah" segregasi kelas sosial berdasarkan ras. Para eugenicist ini menganggap karakteristik tertentu dari suatu ras, terutama yang fenotip/kasat mata, sebagai inferior dan seharusnya dihapuskan, hence the apartheid system and ethnic cleansing movement.
Eugenics ini adalah istilah kunci yang jadi benang merah antara tragedi NAZI dan teori evolusi, yang kemudian sering dipakai oleh para anti-evolusionis untuk mendiskreditkan teori yang digagas Darwin. Sebenarnya apakah ada hubungannya? Truth to be told, there was, but not directly. And the two things (eugenics and evolution theory) linked in a rather interesting manner. 
Charles Darwin datang dari keluarga dengan latar belakang elit akademisi. Kakeknya, Erasmus Darwin, juga seorang ilmuwan berpengaruh pada masanya. Charles ini punya sepupu, namanya Francis Galton, yang sejak kecil prestasi akademiknya cemerlang. 
Setelah kepulangannya dari Pulau Galapagos, Charles Darwin jadi selebriti di kalangan naturalis. Dengan gagasannya tentang evolusi, namanya mulai dikenal di kalangan ilmuwan. Seiring perkembangan teori ini, dikenallah istilah "survival of the fittest", yang meskipun bukan diungkapkan oleh Darwin tapi dianggap sebagai ungkapan yang lekat dengan evolusi. Galton, si sepupu yang pintar tadi, terinspirasi dengan istilah ini dan menganggap bahwa karakteristik tertentu dari manusia ada yang merupakan hasil evolusi yang sudah mulai obsolete dan merupakan kelemahan. Badan yang lebih pendek, hidung yang lebih pesek, kecerdasan yang lebih rendah; ini sifat buruk, yang akan merugikan kalau terus diwariskan ke generasi selanjutnya. Why don't we just cut it then? Dan untuk memudahkan penyebutan kita beri istilah deh, upaya ini. Lalu dicetuskanlah terminologi eugenics oleh Galton, dari akar kata Bahasa Yunani.; "eu", artinya bagus, dan "genos" yang artinya stock/race.
Pendukung eugenics, yang surprisingly cukup banyak dan menduduki jabatan tinggi, betul-betul menerjemahkan upaya ini ke policy yang diterapkan di daerah kekuasaan masing-masing. Di beberapa wilayah, orang-orang yang dianggap sebagai bad seed dibuatkan camp khusus "orang-orang terbelakang" dan dikarantina, disterilkan agar tidak bisa bereproduksi. Apa saja yang dikategorikan sebagai karakteristik bad seed? Ya apa saja yang dianggap sebagai kelemahan oleh para eugenicist. And as if this was not cruel enough, they tried to accelerate the elimination process. By creating this kind of concentration camps, they will have to wait for at least one or two generations until the could eradicate the "inferior characteristic". "Why don't we make it faster and just kill them directly?", hence came the darkest effect of this movement, among those is the gas chamber in Auschwitz operated by NAZI. A very dark tragedy in the history of humanity.  

Epigenetic
Epigenetic, roughly speaking, adalah sebuah bidang studi yang mempelajari perubahan genetika pada individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Yes, interaksi makhluk hidup dengan lingkungan ternyata cukup powerful untuk sampai bisa mengubah kode DNA-nya. 
Pada lebah contohnya, lebah ratu ternyata menetas dengan sequence DNA yang persis sama dengan lebah biasa, tidak ada bedanya. Tapi ketika dalam periode metamorfosa, yang kemudian menjadi ratu adalah telur yang mengalami keterbatasan sumber nutrisi tertentu. Analogi bebasnya, kalau diibaratkan anak-anak, ratu lebah ini masa kecilnya memiliki keterbatasan untuk memilih jenis nutrisi; nggak makan permen, nggak makan junk food. Hasilnya, ada sequence DNA tertentu yang mengalami modifikasi, dan menjadikannya ratu. 
Efek epigenetic pada manusia juga sudah dipelajari. Kejadian traumatis seperti perang, atau bahkan bullying, itu juga efeknya bisa sampai mengubah kode DNA. Kalau kode DNA berubah, dampak fisiologisnya tentu ada ya; ekskresi hormon misalnya, yang kemudian memiliki efek fisik atau psikologis. Yang perlu dicatat lagi, perubahan ini bisa diwariskan sampai ke 2 generasi di bawahnya. 

This finding answer the old question about ourselves: are we the product of nature or nurture? 
The answer is BOTH. Because even what the nature provide could be affected by the nurture, and vice versa.

Personal score: belum ada karena belum tamat

***

Lumayan, sebulan baca lebih dari satu buku. :D
Mudah-mudahan ilmu yang sudah dibaca membawa berkah dunia akhirat, aamiin.
  

23 May 2017

Warisan; sebuah refleksi pribadi

Iya, ini terkait tulisan seorang pemudi kritis yang menurut saya pribadi level kedewasaan, kekritisan dan concern-nya terhadap isu sosial, jauh di atas rata-rata remaja seusianya :). Semoga Allah menjaga dan membimbingnya selalu.
Terhadap konten tulisannya sendiri, ide utamanya saya rasa tentang perbedaan yang jangan sampai menjadi sumber perpecahan, tentu saya setujui. Tapi beberapa poin yang disampaikan sangat tidak sejalan dengan yang saya pahami. Anyway, saya bukan 'ulama, rasanya tidak berkapasitas mengupas isinya. Yang menggelitik saya adalah betapa beragamnya komentar yang ditujukan terhadap tulisan ini, juga terhadap penulisnya. Berikut beberapa hal yang menjadi refleksi pribadi setelah menyimak tulisan tersebut dan berbagai reaksinya.

Tentang "agama adalah warisan"

Sebatas yang saya pahami, poin inilah yang menjadi bahan perdebatan utama. Saya kaget melihat reaksi orang-orang yang begitu kaget dengan diangkatnya isu ini (jadinya kaget-ception), karena tadinya saya kira ini sudah menjadi "tantangan" standar yang diajukan pada orang yang memilih suatu keyakinan (terutama Islam).  
Saya ingat, pertanyaan ini pertama kali saya terima waktu SMP, dari seorang guru ngaji. Beberapa kali saya terima lagi sewaktu SMA, lagi-lagi dari pendamping mengaji. Tentunya bukan dalam konteks menguji; setelah diberi kesempatan untuk berpikir, saya dan teman-teman diberi arahan mengapa Islam yang kami anut bukan warisan, diberi tempat untuk bertanya sekiranya ada hal yang belum kami mengerti. Maka saya kira pernyataan ini sudah menjadi semacam terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran agama. Sehingga ketika saya menerima pertanyaan tersebut dalam bentuk yang betul-betul menantang, beberapa kali, saat berada di tempat yang minoritas Muslim, alhamdulillah saya diberi kesiapan untuk menjawab. 

"Bukan, saya berislam bukan sekadar karena warisan. 
Bahwa orang tua saya mendoktrin sedari saya kecil dengan mengajarkan jalan yang beliau-beliau yakini sebagai keyakinan yang benar, iya. Dan saya kira, disadari atau tidak, sudah menjadi naluri orang tua untuk mengajarkan apa yang dianggap sebagai hal-hal yang diyakini baik, melungsurkan norma, mewariskan nilai-nilai. 
Tapi lalu kita semua beranjak dewasa, bukan? Memiliki kapasitas untuk berpikir lebih kritis dan mendalam? Berkemampuan untuk mengevaluasi mana yang dan yang tidak? Bisa memutuskan apa yang akan diyakini dan apa yang akan ditinggalkan? 

Apakah nama bisa diganti setelah kita dewasa? Bisa. 
Apakah kewarganegaraan bisa ditukar? Bisa.
Apakah "agama" bisa dipilih? Bisa.

(Pada kondisi pertanyaan-pertanyaan tersebut disampaikan, untuk mengikuti logika penanya saya menambahkan) Well, in fact I am accepted here because the jury decide that I have decent cognitive capability and mental health to pursue my PhD. So I guess it is valid for me to say that I am able to decide the very basic value that I choose to hold on to, right?  So, no.. my belief is not merely an inheritance that is passed from earlier generation.
Agama saya bukan sekedar warisan." :)

Yang kemudian jadi pertanyaan untuk saya dari poin ini, adalah bagaimana caranya mengajarkan pada anak untuk mereka meyakini suatu hal sebagai benar, tanpa menjatuhkan pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda (yang memang kami anggap sebagai tidak benar). Hmm?


Belajar dengan guru

Berbagai arus reaksi terhadap tulisan ini juga mengingatkan saya pentingnya belajar (Islam) dengan bimbingan guru yang faqih. Banyaknya media pembelajaran; dari buku cetak dan berbagai sumber di dunia maya sama sekali tidak mengurangi (jika bukan menambah) pentingnya belajar dengan dampingan ustadz/ah.
Tanpa bimbingan, interpretasi terhadap isi suatu tulisan misalnya, sangat mungkin jadi beragam dan terbatas pada ilmu yang sudah diketahui saja.
Di samping itu, alasan mengapa tradisi Islam sangat menjaga dan mementingkan sanad atas sebuah ilmu, juga menjadi semakin terpahami. Sama halnya dengan tulisan ilmiah, rujukan dari mana suatu informasi/ilmu berasal sangat penting untuk menguji validitas sebuah informasi.

Sebagai contoh ekstrim, katakanlah saya dan Syaikh Yasir Qadhi sama-sama membaca kitab Sirah Nabawiyah yang disusuh Ibnu Hisyam. Syaikh YQ yang sudah ber-'ijazaat (mendapat ijin mengajar dan ilmunya bersanad sampai ke Rasulullah SAW), dan saya yang.. ah sudahlah. Bacaan bisa sama, tapi apa jadinya dunia ini kalau saya yang nggak tau apa-apa ini merasa punya ilmu yang sama dengan beliau yang sudah kesana kemari belajar didampingi guru yang keabsahan ilmunya sangat valid..
Tentu, ini bukan berarti menihilkan upaya belajar sendiri, sama sekali tidak. Belajar sendiri, membaca sendiri dan berpikir sendiri merupakan bagian penting dari sebuah proses pembelajaran; yang berbahaya adalah ketika merasa cukup dengan itu saja. 

Lalu pertanyaannya, Bu, sudah siap jadi pendamping pertama anak-anak dalam memahami ajaran Islam? Setidaknya di tahun-tahun pertamanya. Sudah siap membimbing anak-anak membangun pondasi keyakinan dan tauhid yang kokoh? (langsung menunduk dalam-dalam)


The comparison

Ini kegemesan pribadi aja sih, saya gemeeeesss saat menemukan pernyataan semacam:
"Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan"
atau yang suka ramai menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, terkait hilal;
"Orang lain udah pergi ke bulan, ini masih ributin bulannya keliatan atau enggak"

Cuy! (gemes maksimal)

Pernyataan seperti ini, setidaknya dari pandangan saya pribadi, menyiratkan bahwa ilmu sains dan rekayasa itulah yang sophisticated, sementara ilmu agama itu terbelakang. Scientist dan engineer itu keren banget, ahli agama itu kuno. Kenapa begitu?

Bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, pernyataan seperti di atas membandingkan dua hal dari domain ilmu yang berbeda. Yang satu interdisciplinary science and engineering, satu lagi teologi Islam cabang ilmu fiqih (cmiiw). 
Perbedaan tentang hilal misalnya, adalah karena adanya beda interpretasi dari hadits terkait, yang merupakan subjek pembelajaran dari ilmu fiqih, dan adanya perbedaan pun diakui selama dasarnya kuat. Jadi bukan perihal bisa atau nggak bisa menghitung ya, beda ranah. 

Pernyataan di atas mungkin jadinya sama saja dengan bilang ke historian;
"Orang lain sudah memikirkan teknologi teleportasi, Anda masih belum bisa move on dari masa lalu?",
atau pada microbiologist;
"Tesla sudah mau menerbangkan kapal besar komersial ke luar angkasa, Anda masih mencari sesuatu yang tidak terlihat mata?".

Nggak begitu kan ya? Ranah ilmu yang berbeda ya sudah, biar ahlinya saja yang berbicara.

***

Demikianlah, beberapa hal yang menjadi refleksi pribadi dari tulisan berjudul "Warisan". Terima kasih ya Dik Afi, saya jadi dipaksa berpikir. 
Memikirkan apa yang harus saya lakukan sebagai pendidik pertama di rumah. 
Memikirkan nilai-nilai apa yang harus saya wariskan pada anak-anak.
:)

Wallahu a'lam bish shawab.




10 March 2017

Sepatu Putih

Sore itu Aa ada ngajar sampe menjelang maghrib, saya pulang duluan pake Gojek. Untung masih ada abang-abang yang operasi di tengah marak protes dari supir angkot dan supir taksi.

Ojek terhenti di lampu merah perempatan Jl. Cokelat, ada seorang ibu sama anaknya. Ibunya masih muda, usia sekitar pertengahan 20 tahunan; anaknya sekitar usia 6 tahunan. Mereka pemulung, anaknya bawa 1 karung hasil memulung yang hampir-hampir lebih besar dari badannya sendiri, sementara ibunya bawa 2 karung. Berat nggak ya? Saya bertanya sendiri dalam hati. Semoga enggak, sampah yang mereka kumpulkan adalah botol PET dari tempat-tempat sampah di pinggir jalan. 

Penampilan mereka lusuh, debu menempel sebadan-badan. Baju ibunya bolong di banyak tempat. Baju yang awalnya sepertinya berwarna kuning sudah jadi entah warna apa, terjemur matahari sekaligus ditempeli berbagai noda dan debu. Kapan terakhir kali bajunya diganti ya? Saya bertanya lagi dalam hati. Si Ibu nggak pakai alas kaki, telapak kakinya pecah-pecah besar sekali, terlihat jelas dari tempat saya duduk di ojek. Sudah berapa jauh hari ini berjalan, Bu?

Penampilan anaknya tidak jauh beda, badannya lusuh, bajunya kotor, tapi ada satu hal yang kontras sekali terlihat dari keseluruhan penampilannya; sepatu putih. Anak itu memakai alas kaki, sepatu putih yang terlihat pas di kakinya, tidak kedodoran. Sol-nya masih kokoh. Jahitannya masih rapi. Bukan sepatu baru yang putih mengilap, bukan. Jelas terlihat itu sepatu yang sudah dipakai beberapa lama. Tapi dari keseluruhan penampilan mereka, sepatu itulah yang paling mahal.

Dapat dari mana ya.. Memungut di jalan? 
Atau beli di tukang loak, mengumpulkan dari hasil memulung? Ibunya mengalah, merelakan uangnya dipakai untuk beli sepatu bagus yang pas di kaki anaknya, merelakan kakinya sendiri kering, perih dan pecah-pecah. 
Sepatu itu pasti kesayangan si anak, menemaninya berjalan jauh tanpa kakinya harus terluka.
Pikiran saya melayang-layang.

Lampu merah hampir berganti. Si anak berlari menyeberang jalan sambil tertawa-tawa riang, memanggil ibunya untuk cepat menyusul.

Lampu hijau menyala. Ojek kembali berjalan, mata saya basah sudah.


Ya Allah, jadikan anak tadi manusia yang shalih, penentram dan penyejuk bagi orang tuanya.
Jadikan ia penerang, cahaya bagi agama-Mu.
Aamiin.