23 May 2017

Warisan; sebuah refleksi pribadi

Iya, ini terkait tulisan seorang pemudi kritis yang menurut saya pribadi level kedewasaan, kekritisan dan concern-nya terhadap isu sosial, jauh di atas rata-rata remaja seusianya :). Semoga Allah menjaga dan membimbingnya selalu.
Terhadap konten tulisannya sendiri, ide utamanya saya rasa tentang perbedaan yang jangan sampai menjadi sumber perpecahan, tentu saya setujui. Tapi beberapa poin yang disampaikan sangat tidak sejalan dengan yang saya pahami. Anyway, saya bukan 'ulama, rasanya tidak berkapasitas mengupas isinya. Yang menggelitik saya adalah betapa beragamnya komentar yang ditujukan terhadap tulisan ini, juga terhadap penulisnya. Berikut beberapa hal yang menjadi refleksi pribadi setelah menyimak tulisan tersebut dan berbagai reaksinya.

Tentang "agama adalah warisan"

Sebatas yang saya pahami, poin inilah yang menjadi bahan perdebatan utama. Saya kaget melihat reaksi orang-orang yang begitu kaget dengan diangkatnya isu ini (jadinya kaget-ception), karena tadinya saya kira ini sudah menjadi "tantangan" standar yang diajukan pada orang yang memilih suatu keyakinan (terutama Islam).  
Saya ingat, pertanyaan ini pertama kali saya terima waktu SMP, dari seorang guru ngaji. Beberapa kali saya terima lagi sewaktu SMA, lagi-lagi dari pendamping mengaji. Tentunya bukan dalam konteks menguji; setelah diberi kesempatan untuk berpikir, saya dan teman-teman diberi arahan mengapa Islam yang kami anut bukan warisan, diberi tempat untuk bertanya sekiranya ada hal yang belum kami mengerti. Maka saya kira pernyataan ini sudah menjadi semacam terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran agama. Sehingga ketika saya menerima pertanyaan tersebut dalam bentuk yang betul-betul menantang, beberapa kali, saat berada di tempat yang minoritas Muslim, alhamdulillah saya diberi kesiapan untuk menjawab. 

"Bukan, saya berislam bukan sekadar karena warisan. 
Bahwa orang tua saya mendoktrin sedari saya kecil dengan mengajarkan jalan yang beliau-beliau yakini sebagai keyakinan yang benar, iya. Dan saya kira, disadari atau tidak, sudah menjadi naluri orang tua untuk mengajarkan apa yang dianggap sebagai hal-hal yang diyakini baik, melungsurkan norma, mewariskan nilai-nilai. 
Tapi lalu kita semua beranjak dewasa, bukan? Memiliki kapasitas untuk berpikir lebih kritis dan mendalam? Berkemampuan untuk mengevaluasi mana yang dan yang tidak? Bisa memutuskan apa yang akan diyakini dan apa yang akan ditinggalkan? 

Apakah nama bisa diganti setelah kita dewasa? Bisa. 
Apakah kewarganegaraan bisa ditukar? Bisa.
Apakah "agama" bisa dipilih? Bisa.

(Pada kondisi pertanyaan-pertanyaan tersebut disampaikan, untuk mengikuti logika penanya saya menambahkan) Well, in fact I am accepted here because the jury decide that I have decent cognitive capability and mental health to pursue my PhD. So I guess it is valid for me to say that I am able to decide the very basic value that I choose to hold on to, right?  So, no.. my belief is not merely an inheritance that is passed from earlier generation.
Agama saya bukan sekedar warisan." :)

Yang kemudian jadi pertanyaan untuk saya dari poin ini, adalah bagaimana caranya mengajarkan pada anak untuk mereka meyakini suatu hal sebagai benar, tanpa menjatuhkan pihak lain yang memiliki keyakinan berbeda (yang memang kami anggap sebagai tidak benar). Hmm?


Belajar dengan guru

Berbagai arus reaksi terhadap tulisan ini juga mengingatkan saya pentingnya belajar (Islam) dengan bimbingan guru yang faqih. Banyaknya media pembelajaran; dari buku cetak dan berbagai sumber di dunia maya sama sekali tidak mengurangi (jika bukan menambah) pentingnya belajar dengan dampingan ustadz/ah.
Tanpa bimbingan, interpretasi terhadap isi suatu tulisan misalnya, sangat mungkin jadi beragam dan terbatas pada ilmu yang sudah diketahui saja.
Di samping itu, alasan mengapa tradisi Islam sangat menjaga dan mementingkan sanad atas sebuah ilmu, juga menjadi semakin terpahami. Sama halnya dengan tulisan ilmiah, rujukan dari mana suatu informasi/ilmu berasal sangat penting untuk menguji validitas sebuah informasi.

Sebagai contoh ekstrim, katakanlah saya dan Syaikh Yasir Qadhi sama-sama membaca kitab Sirah Nabawiyah yang disusuh Ibnu Hisyam. Syaikh YQ yang sudah ber-'ijazaat (mendapat ijin mengajar dan ilmunya bersanad sampai ke Rasulullah SAW), dan saya yang.. ah sudahlah. Bacaan bisa sama, tapi apa jadinya dunia ini kalau saya yang nggak tau apa-apa ini merasa punya ilmu yang sama dengan beliau yang sudah kesana kemari belajar didampingi guru yang keabsahan ilmunya sangat valid..
Tentu, ini bukan berarti menihilkan upaya belajar sendiri, sama sekali tidak. Belajar sendiri, membaca sendiri dan berpikir sendiri merupakan bagian penting dari sebuah proses pembelajaran; yang berbahaya adalah ketika merasa cukup dengan itu saja. 

Lalu pertanyaannya, Bu, sudah siap jadi pendamping pertama anak-anak dalam memahami ajaran Islam? Setidaknya di tahun-tahun pertamanya. Sudah siap membimbing anak-anak membangun pondasi keyakinan dan tauhid yang kokoh? (langsung menunduk dalam-dalam)


The comparison

Ini kegemesan pribadi aja sih, saya gemeeeesss saat menemukan pernyataan semacam:
"Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan"
atau yang suka ramai menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, terkait hilal;
"Orang lain udah pergi ke bulan, ini masih ributin bulannya keliatan atau enggak"

Cuy! (gemes maksimal)

Pernyataan seperti ini, setidaknya dari pandangan saya pribadi, menyiratkan bahwa ilmu sains dan rekayasa itulah yang sophisticated, sementara ilmu agama itu terbelakang. Scientist dan engineer itu keren banget, ahli agama itu kuno. Kenapa begitu?

Bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, pernyataan seperti di atas membandingkan dua hal dari domain ilmu yang berbeda. Yang satu interdisciplinary science and engineering, satu lagi teologi Islam cabang ilmu fiqih (cmiiw). 
Perbedaan tentang hilal misalnya, adalah karena adanya beda interpretasi dari hadits terkait, yang merupakan subjek pembelajaran dari ilmu fiqih, dan adanya perbedaan pun diakui selama dasarnya kuat. Jadi bukan perihal bisa atau nggak bisa menghitung ya, beda ranah. 

Pernyataan di atas mungkin jadinya sama saja dengan bilang ke historian;
"Orang lain sudah memikirkan teknologi teleportasi, Anda masih belum bisa move on dari masa lalu?",
atau pada microbiologist;
"Tesla sudah mau menerbangkan kapal besar komersial ke luar angkasa, Anda masih mencari sesuatu yang tidak terlihat mata?".

Nggak begitu kan ya? Ranah ilmu yang berbeda ya sudah, biar ahlinya saja yang berbicara.

***

Demikianlah, beberapa hal yang menjadi refleksi pribadi dari tulisan berjudul "Warisan". Terima kasih ya Dik Afi, saya jadi dipaksa berpikir. 
Memikirkan apa yang harus saya lakukan sebagai pendidik pertama di rumah. 
Memikirkan nilai-nilai apa yang harus saya wariskan pada anak-anak.
:)

Wallahu a'lam bish shawab.




10 March 2017

Sepatu Putih

Sore itu Aa ada ngajar sampe menjelang maghrib, saya pulang duluan pake Gojek. Untung masih ada abang-abang yang operasi di tengah marak protes dari supir angkot dan supir taksi.

Ojek terhenti di lampu merah perempatan Jl. Cokelat, ada seorang ibu sama anaknya. Ibunya masih muda, usia sekitar pertengahan 20 tahunan; anaknya sekitar usia 6 tahunan. Mereka pemulung, anaknya bawa 1 karung hasil memulung yang hampir-hampir lebih besar dari badannya sendiri, sementara ibunya bawa 2 karung. Berat nggak ya? Saya bertanya sendiri dalam hati. Semoga enggak, sampah yang mereka kumpulkan adalah botol PET dari tempat-tempat sampah di pinggir jalan. 

Penampilan mereka lusuh, debu menempel sebadan-badan. Baju ibunya bolong di banyak tempat. Baju yang awalnya sepertinya berwarna kuning sudah jadi entah warna apa, terjemur matahari sekaligus ditempeli berbagai noda dan debu. Kapan terakhir kali bajunya diganti ya? Saya bertanya lagi dalam hati. Si Ibu nggak pakai alas kaki, telapak kakinya pecah-pecah besar sekali, terlihat jelas dari tempat saya duduk di ojek. Sudah berapa jauh hari ini berjalan, Bu?

Penampilan anaknya tidak jauh beda, badannya lusuh, bajunya kotor, tapi ada satu hal yang kontras sekali terlihat dari keseluruhan penampilannya; sepatu putih. Anak itu memakai alas kaki, sepatu putih yang terlihat pas di kakinya, tidak kedodoran. Sol-nya masih kokoh. Jahitannya masih rapi. Bukan sepatu baru yang putih mengilap, bukan. Jelas terlihat itu sepatu yang sudah dipakai beberapa lama. Tapi dari keseluruhan penampilan mereka, sepatu itulah yang paling mahal.

Dapat dari mana ya.. Memungut di jalan? 
Atau beli di tukang loak, mengumpulkan dari hasil memulung? Ibunya mengalah, merelakan uangnya dipakai untuk beli sepatu bagus yang pas di kaki anaknya, merelakan kakinya sendiri kering, perih dan pecah-pecah. 
Sepatu itu pasti kesayangan si anak, menemaninya berjalan jauh tanpa kakinya harus terluka.
Pikiran saya melayang-layang.

Lampu merah hampir berganti. Si anak berlari menyeberang jalan sambil tertawa-tawa riang, memanggil ibunya untuk cepat menyusul.

Lampu hijau menyala. Ojek kembali berjalan, mata saya basah sudah.


Ya Allah, jadikan anak tadi manusia yang shalih, penentram dan penyejuk bagi orang tuanya.
Jadikan ia penerang, cahaya bagi agama-Mu.
Aamiin.

10 February 2017

Note to self: Mandiri

Mungkin, memupuk kemandirian itu bukan dengan mengajarkan anak agar bisa detached dari orang tuanya; 
tapi dengan membentuk bonding yang kokoh, sedemikian kuat sehingga mereka merasa nyaman untuk kemudian bisa bereksplorasi sendiri. 

04 December 2016

Bias

(Please pardon the mixed language. It is how the brain naturally work for the moment. Cinta Laura, I feel you -__-)

Beberapa hari kemarin HP saya rusak, nggak bisa baca SIM card. Telepon, SMS, aplikasi-aplikasi yang perlu mobile data; nggak bisa dipake semuanya. Ketidaknormalan terdeteksi sejak sekitar seminggu sebelumnya, sinyal sering tiba-tiba ilang, terus beberapa menit kemudian muncul lagi. Awalnya nggak terlalu mengganggu karena hilang sinyalnya juga cuma sebentar, terus jadi jadi annoying karena makin sering, sampe akhirnya nggak bisa dipake blas. 

HP yang sekarang saya pakai adalah Xiaomi Note 3, btw. Baru setengah tahun pemakaian sejak dibeli. Beberapa bulan lalu, chargernya juga tiba-tiba rusak padahal pemakaiannya normal, jadinya harus beli baru lagi karena charger nggak ter-cover garansi. So yes, this second-time trouble kinda really upset me. 
No SIM card, tulisan yang ada di pojok kanan atas layar HP, di tempat yang seharusnya tertera nama service provider dan indikator kekuatan sinyal. Padahal SIM card-nya ya ada di tempatnya, nggak pernah dibuka-buka dan diganti-ganti selama sekian bulan terakhir. Setelah rangkaian kegiatan matiin HP-buka SIM card-pasang lagi-nyalain lagi HP tidak juga berhasil memperbaiki kondisi, I did the generic thing, tanya Google.
Baru aja saya ketik "undetected SIM.." (atau yang semacamnya, don't remember what I exactly typed), opsi auto fill teratas menyarankan "mi 3", tipe HP dari produsen yang sama, dengan spesifikasi mirip dengan yang saya pakai, hanya layarnya aja yang lebih kecil. Rrrr.. so this appeared to be a common problem for the brand and type. Kesel. Nyobain beberapa langkah yang ditawarkan sebagai solusi, nothing worked. Kesel kesel.

Untungnya di sini ada service center resmi Xiaomi, tapi jam operasionalnya agak sulit disesuaikan dengan jadwal kami. Mau bawa ke counter service HP yang biasa, agak nggak yakin juga. Agenda reparasi jadinya tertunda beberapa hari. In the meantime, Aa sempet beberapa kali nyaranin untuk coba ganti SIM card pake punya Aa. But I thought broken SIM was not really what happened. Selama belasan taun pake HP, rasanya nggak pernah juga harus ganti SIM gara-gara rusak.

Suatu sore, dianter Aa, akhirnya sempet juga ke service center yang resmi. Setelah saya jelaskan masalah yang terjadi dengan HP saya, plus nunjukin kartu garansi dan nota pembelian, staf service center menjelaskan bahwa mereka hanya bisa mereparasi kalau kerusakannya ada pada software, untuk masalah lain, harus dikirim langsung ke distributor. Kalau mau klaim garansi, saya juga harus langsung kirim sendiri ke collection center di Jakarta. Mereka nggak bisa bantu karena distributor mereka beda dengan distributor HP saya (yang dibeli di kota lain). Rrrrh. Beginilah kalo pake barang dengan brand relatif baru, servis purna jualnya nggak (/belum) memuaskan. Nggak jadi diservis, HP saya bawa lagi.
Di jalan pulang, kami lewat independent service center yang dari penampilan gedungnya cukup meyakinkan, ya udah coba aja lah. Jawaban stafnya "kita harus periksa dulu kemungkinan penyebabnya apa, 3-4 harian. Nggak bisa cepet Mbak, maaf. Habis itu baru bisa kasih estimasi biaya dan perbaikannya".
Astaga, keseeel. Kok ribet amat deh ini HP. Keluar dari tempat servis itu, I immediately made a mental note: 
Nggak. Akan. Pernah. Beli. Xiaomi. Lagi.
Never. Ever.

Melihat wajah manyun istrinya, Aa akhirnya turun tangan langsung. Bongkar HP dan cari info di internet. "Besok dicobain deh ya yang di YouTube", kata Aa.
"Eh, ambilin dulu HP saya deh, cobain tuker kartunya", saya ambil sambil malas. 
SIM card diganti. Kemudian, jreeeeng.. Langsung muncul tulisan TELKOMSEL. Sinyal penuh. Mobile data berjalan normal. Aa mendelik.
Ahahahahahaha..

"Kamu mah, harus banget ya ribut dulu."
"Iiih, kalo nggak riweuh dulu kan nggak seru Aaa."

Dan ledekan pun terus berlanjut. Hahaha.

***

Waktu ke pameran buku Big Bad Wolf di Surabaya kemaren, saya sama Aa berpencar, karena genre buku yang menjadi interest kami umumnya beda. Waktu akhirnya ketemu untuk mengompilasi hasil perburuan, sebagian besar buku ternyata accidentally (or not) sama-sama tentang topik yang senada; brain, human mind, thinking process. 
Dari beberapa buku yang sudah dan sedang dibaca, semuanya menunjukkan bahwa akal manusia adalah sesuatu yang dinamis, everchanging, berinteraksi dengan berbagai input informasi. Positifnya, manusia jadi bisa beradaptasi dan menyelaraskan dengan kondisi, yang jadi kunci utama pertahanan diri dan keberlanjutan spesies. Unconcious mind (pada otak yang normal) dirancang mampu untuk menangkap konteks dalam waktu saat singkat dan menyiapkan respon yang dinilai sesuai, effortlessly. But unfortunately (?), the positives come with a cost; human brain are very prone to bias, to cognitive errors. One of the causes is because it easily interacts with information from outside. Kata dosen statistik, ibarat kalo dalam uji ANOVA, ada interaksi berarti ada inkonsistensi.

Kisah handphone rusak di atas adalah salah satu contoh, cognitive error sederhana yang sangat common akibat suatu hal bernama priming (dari asal kata prime). I was blinded to see the very simple alternative solution, changing SIM card, because I had earlier been primed to the information I happened to find on Google: the trouble is common for my particular type of phone. To add, something related to the phone (i.e. its charger) has been broken before, so the problem's got to be with the phone and not anything else. Period. Yang mana ternyata bukan. This very simple error costed me couple of days of disability to connect with the people on my circle (e.g. my son couldn't call his grandparents) and lateness in accepting information/instruction at work, which could be pretty much crucial. It was nothing though, if compared to the cost of relying social judgment solely to cognitive reasoning. 
Bias terhadap gender, ras dan usia misalnya, adalah hal yang tertanam di bawah sadar (scientifically proven, btw) dan sulit untuk dikendalikan (tentunya, karena masuknya wilayah kerja unconscious mind). Bias gender dalam karir akademik misalnya, terutama sains dan engineering, seberapapun berusaha dihilangkan, nyatanya tetep aja signifikan. Imagine you're the person in charge to hire a head researcher on a topic in spacecraft engineering, there are 2 equally strong candidates with somewhat similar qualifications, but one of them named Bill and the other named Lala; which one would you hire? If you're like most of the people, we know what your quick answer is. Daniel Kahneman, seorang psikolog dan behavioral economist, dapet nobel untuk penelitiannya tentang common human error akibat heuristic dan bias. So yes, the evident is very clear. Human mind is really really prone to errors. Can we rely on our mind to take decision on fundamental matters, then? I worry.

Tapi lalu materi pengajian beberapa pekan lalu menampar saya. Dalam Islam, pemikiran manusia, terutama manusia biasa kebanyakan, rupanya ada di urutan ke EMPAT untuk pengambilan keputusan. Fiuh.
We know, urutan pertama adalah kitabullah, yang keasliannya dijaga dengan penjagaan langit, yang bahasanya hanya satu saja. Urutan kedua sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, yang metodologi preservation-nya begitu ketat lewat evaluasi sanad. Yang ketiga adalah ijtihad para 'ulama, yang dinilai memahami kedua dasar hukum yang lebih utama. 

Allahu akbar. Pemikiran manusia memang rupanya tidak dirancang untuk menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang fundamental, yang terkait kepentingan banyak orang misalnya. Alhamdulilah..

***

Lalu jadi ingat kasus Ahok. Sejujurnya, dari sejak melihat sendiri rekaman videonya berbulan-bulan lalu sampai sekarang, saya belum mengerti apakah tindakannya perlu penanganan hukum (karena memang bukan orang hukum sih, jadi nggak ngerti) dan sampai menimbulkan gerakan sebesar yang terjadi sekarang? 

But then, apalah artinya pemikiran remah rengginang bernama Vuterlanik ini, kalau kumpulan guru dan 'ulama sudah berijtihad dan memutuskan untuk menggerakkan umat. So yes, saya (harus) mendukung kedua aksi damai yang telah terselenggara. Dan masih merasa haru sekali melihat jutaan muslim turun ke jalan, (sebagian dari mereka mungkin perlu bertarung untuk mengalahkan ego dan pemikiran pribadi) dan manut sama 'ulama, sumber pengambilan hukum yang ketiga.

Wallahu a'lam bish shawab.


(Eh, jadi yang hadir kemarin tujuh ribu apa tujuh juta? 
Astagaa.. Rasanya common cognitive error sekalipun harusnya ga termasuk hilangnya kemampuan dasar aritmetika :P)

11 October 2016

On Evolution

One topic has been buzzing my head in the last few months; evolution.

After re-learning about planet earth, from the book that I shared the other day, I feel that it is important to learn about evolution. All these urges start when I internalize my role as a  mother.
I need to learn the planet so that I can explain to my son about his home. I study evolution so that I can answer once he asks about his ancestor. Or at least I will have some confidence to explain to him about the topics to some extent, ignites his curiosity, and guide him to learn deeper.

The latter topic is particularly important because there is some fundamental parts of the theory that is conflicting with my believe as a Muslim. Meanwhile, evolution theory is like the theory of gravity or electromagnetism in physics, it becomes the root of other branches of science. To add, by and large, the theory is still adopted in the basic school curriculum.

I read Collapse of The Theory of Evolution by Harun Yahya years ago, back when I was still in high school/first year in college. At that time, my conclusion was that as a muslim, I have to reject the theory. It go against my believe. Period.
But after I decided to learn the topic somewhat deeper, I realize that I never tried to understand the point of view of the other side, of those who support the theory. This thought  brought me to read some part of The Beak of The Finch by Jonathan Weiner (the book won Pulitzer Prize, fyi) and Sapiens by Yuval Noah Harari. To give myself a more balanced input, I re-opened Collapse of The Theory of Evolution book, yet this time, I feel some difficulties to affirm the contents of the book as a whole.

What I personally find hard to believe is that, if evolution is really ONLY made up of lies, as the anti-evolutionist stated time and again, how could the theory become so powerful? I know, even among its supporter, evolution theory is struggling to find core evidences until now. But still, how could the majority of scientist still support it? To add, scientists are debating about lots of other major theories anyway. I probably am a naïve, but again, I find it difficult to accept that the base of the ever-growing belief on the evolution theory is only one word, conspiration.
How could evolution then intercorrelate with other many fields of science? How could it be somewhat fit to describe the changes experienced by the living creatures in general? With some background in science and research, I also personally find that the general argument of evolution does make sense.

On the other hand, there is indeed one crucial point of evolution theory that clearly goes against my believe: the human evolution. Evolution theory stated that human today is simply a product from million years of evolution; while the Quran clearly stated that Prophet Adam had been directly created by Allah, in the heaven, then sent down to earth.

Hence, I was so thrilled when I found this video, alhamdulillah.
Shaikh Yasir Qadhi, himself has a basic in science, a degree in chemical engineering and of course a PhD in Islamic theology, gives a plausible reconciliation between evolution theory and Quranic scripts.

The conflict between evolution and Islamic believe, as far as I'm aware, are mainly in two things: (1) that evolution happens randomly, and again, (2) that homo sapiens is simply a product of evolution from previous species.

So there's this thing called microevolution and macroevolution. Simply put, microevolution is the change within one particular type, mostly to adapt. Meanwhile, macroevolution is major change like, say, from horse to giraffe.

There is no problem in affirming these events from Islamic point of view. But as a Muslim, of course we believe that NOT a single thing on earth is a product of randomness. Everything is measured, and be it micro or macroevolution, each of these is part of Allah's plan.

Then, imagine if macroevolution is the result of domino-effect microevolution series. Sapiens is the final card of this domino, but instead of being general part of the previous cards, this final card is created directly by Allah in the heaven, and sent down to earth, "inserted" to the path of the human evolution domino.
Does it have scientific explanation? No.
Can we proof it? No.
Which is why it is called miracle.
It's like the explanation of Prophet Isa's birth. Should there be medical equipment as advanced as it is today in the time of Siti Maryam, doctors would obviously consider that the fetus growing in her pure womb is the result of general reproduction mechanism. But is it? No. Can we proof it scientifically today? No. Yet we believe in this miracle.

To add, among the challenges faced by the evolutionist in explaining Sapiens as an improvement from the previous Hominid (as explained by Harari), is its advanced capability in language. It is far exceeding the capability of its predecessors. Despite the limitations in physical strength, this capability is the thing that makes them (or rather, us) very powerful compared to other species. Sapiens is the only creatures on earth with advance language capability.
On this matter, Islamic theology have the answer. In Quranic script, it is mentioned that, the first thing that Allah teach to Prophet Adam is the name of things. Or in other words, language. So there it is, problem and answer fit like lock and key.

Incompatibility between religious scripts and science was indeed a serious issue in the medieval era, but alhamdulillah that's not the case with Islamic tradition. The irrefutable truth of Quran and the discoveries of human wrapped up in science are intertwining beauty, both of them shall go along.
It is mentioned in the Quran itself that human should use his/her 'aql to think. When there seem to be a conflicting issue between the two, of course we believe in the Quran first, and then continue to learn, to understand and reconcile Allah's written (naqli) and observable  ('aqli) signs.

Wallahu a'lam bish shawab.

04 October 2016

Niaga

As a pure blood introvert, I had never considered myself as a merchant, nor had I ever figured myself of becoming one. Jaman kepanitiaan di sekolah, tim yang paling ogah saya ikuti adalah danus. No no no. Aa juga pernah beberapa kali menyarankan buat nyobain jualan atau buka usaha, tapi tetep, NEHI. Sekali ogah tetap ogah. Mending disuruh semedi sama kromatograf lah :p. 
Soalnya namanya jualan ya harus marketing kan, and I'm just not comfortable with talking a lot to persuade people (to give me their money :p). I guess that's just not the nature of most introvert. 

Lalu tibalah hari itu, hari dimana saya menemukan satu tempat jualan buku anak yang murah-murah tapi berkualitas, terus saya kalap belanja buku buat Sorai, azzzz. Tindakan itu berakibat pada timbulnya rasa bersalah banget-nget, pada saldo rekening di bank. Satu-satunya cara untuk menebus rasa bersalahnya, yang waktu kepikiran, adalah bahwa saya harus jualan si buku dari toko tadi, setidaknya sampe untung dari jualan menutup jumlah uang yang dibelanjakan saat kalap. 

Weeks goes by, turns out beberapa bulan terakhir ini akhirnya terus jualan (with some pauses in between), hahaha. Main product masih buku anak, sempet diseling yang lain juga. I apparently enjoy it so far, and all thanks to technology.  

What's with technology? 

Jadi sebagaimana dijelasin di bukunya Susan Cain, additional barrier yang memungkinkan adanya/memperluas personal space itu meningkatkan performa kerja introvert. Saya bisa enjoy jualan, karena jualannya online, so that there's this digital screen protecting me from facing the customers directly. Coba disuruh ketemu dan nawarin langsung sama calon pembeli, mingkemm deh. :P 

Baru icip jualan kecil-kecilan sebentar dan masih untuk hore-hore aja, apalah saya ini dibanding teman-teman yang udah jauh lebih dulu malang melintang, udah banyak ilmu tentang bisnisnya, udah sekian dan sekian omsetnya. But even within this short period, the experience already allows me to get some things, alhamdulillah. 

Silaturrahim
I would say this is one of the biggest benefits so far. Kebanyakan customer memang hanya interaksi seperlunya proses jual-beli sih, but even this kind of micro-interaction is psychologically healthy, says an article I read somewhere. Nambah kenalan baru juga. Lalu ketemu temen-temen lama yang udah beneran lamaaa banget nggak ada kontaknya, jadi terhubung lagi karena tertarik sama produk yang ditawarkan. Terlepas dari ujungnya jadi beli atau enggak, kesempatan bisa nanya kabarnya sekarang already makes me happy.  
To some extent, I apparently could enjoy small talks, so I'm happy about this. :) 

Stimulation
Enjoyment appears at the boundary between boredom and anxiety, when the challenges are just balanced with the person's capacity to act, says Mihaly Csikszentmihalyi, a leading researcher in psychology. 
Setiap orang punya level stimulasi yang berbeda untuk berada dalam kondisi optimal, the state of enjoyment. Understimulation makes you bored, while overstimulation makes you overwhelmed.   
Komponen stimulasi dari berjualan ini bikin saya ngangguk-ngangguk dalam hati, semacam jadi agak memahami kenapa banyak stay-at-home mothers yang nyambi jualan. Bersama anak-anak kecil sepanjang hari, tanpa ada partner bicara dengan level intelektual yang sama, itu melelahkan hati karena seharian kita berada dalam kondisi mental understimulated. (Kalo stimulasi fisik sih jangan tanya yaa, encok pinggang mamak ngikutin aktivitas si bocah). Maka jualan bisa membuka jalan untuk komunikasi sama sesama orang dewasa. Komunikasi ringan yang tidak mengharuskan mikir banyak, macam kalo lagi diskusi ilmiah (which will probably lead to overstimulation, that could also cause mental exhaustion). Lalu karena toh jualannya juga bisa "semaunya", dalam arti intesitasnya diatur sendiri, level stimulasi pun bisa disesuaikan dengan kondisi optimal untuk diri pribadi.  

Be more mindful of "uang receh"
Terbiasa dengan kultur gajian, yang waktu dapet dan jumlahnya relatif pasti, bikin saya suka teledor dengan nominal yang dianggap nggak terlalu besar. Padahal khususon untuk ibu-ibu pengatur cashflow rumah tangga, kebiasaan ini tentulah tidak baik.  
Di awal-awal, saya sukanya jualan doang; milih-milih barang untuk dijual hari itu, nawarin, rekap pesanan, dan teman-temannya. Giliran harus ngingetin yang belum bayar, malasnya bukan main. Waktu liat catatan, "Oh teteh ini udah hampir seminggu belum bayar ya. Ah, biarin lah. Ga terlalu banyak pesennya juga.". Lalu, "Eh ini juga belum bayar, ooh.. Segini totalnya, nanti aja diingetinnya deh". Berulang sekian kali. Lah ditotal-total kok jadi berasaa yang belum bayarnya, hahaha. Ya menurut nganaa..  
Dari sinilah saya lalu terpaksa belajar untuk lebih attentive terhadap uang kecil. Tentunya bukan soal ngingetin customer aja, tapi juga di sehari-hari. 

And then, there is this one additional thing where, ongkos kirim dari tempat saya tinggal jauuh lebih murah dibanding ongkos kirim ke tempat saya tinggal. Bedanya bisa hampir dua kali lipatnya dong, zzzz. I guess this is universe's conspiracy, untuk memaksa saya jualan online aja, dan bukan (terlalu banyak) belanja online :p. 

Finally, berniaga juga makin menyadarkan bahwa Allah sajalah yang melapangkan dan menyempitkan rejeki. Ada kalanya jumlah pesanan sebanding dengan usaha, lain waktu sebaliknya. Besoknya lagi, yang promo produk yang ini, eh yang dipesen malah yang udah lama ga diiklanin.  
Oh, well.. bagian saya memang hanya ikhtiar dan doa. :) 

Begitulah.. alhamdulillah menemukan kegiatan baru yang menyenangkan. Menyenangkan karena jadi punya hal baru untuk dipelajari :).  

26 June 2016

Note to Self: Seruan

Satu hari di Sendai.
"A, kalo ada orang yang, sebatas aku tau, ngelakuin sesuatu yang salah/nggak tepat, tapi orangnya nggak terlalu kenal, itu langsung bilang aja apa gimana?" 
"Sebisa mungkin dideketin dulu.. menangkan hatinya. Biar pesan yang dari hati, nyampenya ke hati juga."

Dalam satu kajiannya, Ustadz Salim menjelaskan bahwa cara menyeru orang menuju kebaikan itu ada tiga, berturut-turut sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.
Yang pertama dengan hikmah. Hikmah itu apa? Sesuatu yang diberikan, yang manis, lembut dan bermanfaat untuk penerimanya.
Kedua, nasihat yang baik. Dan sebaik-baik nasihat adalah yang diminta. Kenapa? Karena menerima nasihat itu butuh kesiapan. Orang-orang shalih yang minta segera dinasihati ketika tersalah, yang siap menerima nasihat kapan saja, aaah.. betapa Allah lapangkan hati mereka, masyaAllah. Nasihat yang meleset dari sasaran, mungkin seperti jabat hangat yang ditujukan pada tangan yang luka, alih-alih menumbuhkan sayang, malah bikin meradang.
Ketiga, urutan terakhir, adalah debat dengan cara yang lebih baik. Kenapa terakhir? Wallahu a'lam. Hanya biasanya orang masuk ke arena berdebat dengan niat memenangkan argumentasinya, bukan untuk mencari kebenaran. Maka sekiranya jalan ini harus ditempuh, ada catatannya, harus dengan cara yang lebih baik. Lebih baik dari siapa? Seperti apa? Nah, yang ini lupaa. Harus belajar dan cari tahu lagi. 

Wallahu a'lam bish shawab