04 October 2016

Niaga

As a pure blood introvert, I had never considered myself as a merchant, nor had I ever figured myself of becoming one. Jaman kepanitiaan di sekolah, tim yang paling ogah saya ikuti adalah danus. No no no. Aa juga pernah beberapa kali menyarankan buat nyobain jualan atau buka usaha, tapi tetep, NEHI. Sekali ogah tetap ogah. Mending disuruh semedi sama kromatograf lah :p. 
Soalnya namanya jualan ya harus marketing kan, and I'm just not comfortable with talking a lot to persuade people (to give me their money :p). I guess that's just not the nature of most introvert. 

Lalu tibalah hari itu, hari dimana saya menemukan satu tempat jualan buku anak yang murah-murah tapi berkualitas, terus saya kalap belanja buku buat Sorai, azzzz. Tindakan itu berakibat pada timbulnya rasa bersalah banget-nget, pada saldo rekening di bank. Satu-satunya cara untuk menebus rasa bersalahnya, yang waktu kepikiran, adalah bahwa saya harus jualan si buku dari toko tadi, setidaknya sampe untung dari jualan menutup jumlah uang yang dibelanjakan saat kalap. 

Weeks goes by, turns out beberapa bulan terakhir ini akhirnya terus jualan (with some pauses in between), hahaha. Main product masih buku anak, sempet diseling yang lain juga. I apparently enjoy it so far, and all thanks to technology.  

What's with technology? 

Jadi sebagaimana dijelasin di bukunya Susan Cain, additional barrier yang memungkinkan adanya/memperluas personal space itu meningkatkan performa kerja introvert. Saya bisa enjoy jualan, karena jualannya online, so that there's this digital screen protecting me from facing the customers directly. Coba disuruh ketemu dan nawarin langsung sama calon pembeli, mingkemm deh. :P 

Baru icip jualan kecil-kecilan sebentar dan masih untuk hore-hore aja, apalah saya ini dibanding teman-teman yang udah jauh lebih dulu malang melintang, udah banyak ilmu tentang bisnisnya, udah sekian dan sekian omsetnya. But even within this short period, the experience already allows me to get some things, alhamdulillah. 

Silaturrahim
I would say this is one of the biggest benefits so far. Kebanyakan customer memang hanya interaksi seperlunya proses jual-beli sih, but even this kind of micro-interaction is psychologically healthy, says an article I read somewhere. Nambah kenalan baru juga. Lalu ketemu temen-temen lama yang udah beneran lamaaa banget nggak ada kontaknya, jadi terhubung lagi karena tertarik sama produk yang ditawarkan. Terlepas dari ujungnya jadi beli atau enggak, kesempatan bisa nanya kabarnya sekarang already makes me happy.  
To some extent, I apparently could enjoy small talks, so I'm happy about this. :) 

Stimulation
Enjoyment appears at the boundary between boredom and anxiety, when the challenges are just balanced with the person's capacity to act, says Mihaly Csikszentmihalyi, a leading researcher in psychology. 
Setiap orang punya level stimulasi yang berbeda untuk berada dalam kondisi optimal, the state of enjoyment. Understimulation makes you bored, while overstimulation makes you overwhelmed.   
Komponen stimulasi dari berjualan ini bikin saya ngangguk-ngangguk dalam hati, semacam jadi agak memahami kenapa banyak stay-at-home mothers yang nyambi jualan. Bersama anak-anak kecil sepanjang hari, tanpa ada partner bicara dengan level intelektual yang sama, itu melelahkan hati karena seharian kita berada dalam kondisi mental understimulated. (Kalo stimulasi fisik sih jangan tanya yaa, encok pinggang mamak ngikutin aktivitas si bocah). Maka jualan bisa membuka jalan untuk komunikasi sama sesama orang dewasa. Komunikasi ringan yang tidak mengharuskan mikir banyak, macam kalo lagi diskusi ilmiah (which will probably lead to overstimulation, that could also cause mental exhaustion). Lalu karena toh jualannya juga bisa "semaunya", dalam arti intesitasnya diatur sendiri, level stimulasi pun bisa disesuaikan dengan kondisi optimal untuk diri pribadi.  

Be more mindful of "uang receh"
Terbiasa dengan kultur gajian, yang waktu dapet dan jumlahnya relatif pasti, bikin saya suka teledor dengan nominal yang dianggap nggak terlalu besar. Padahal khususon untuk ibu-ibu pengatur cashflow rumah tangga, kebiasaan ini tentulah tidak baik.  
Di awal-awal, saya sukanya jualan doang; milih-milih barang untuk dijual hari itu, nawarin, rekap pesanan, dan teman-temannya. Giliran harus ngingetin yang belum bayar, malasnya bukan main. Waktu liat catatan, "Oh teteh ini udah hampir seminggu belum bayar ya. Ah, biarin lah. Ga terlalu banyak pesennya juga.". Lalu, "Eh ini juga belum bayar, ooh.. Segini totalnya, nanti aja diingetinnya deh". Berulang sekian kali. Lah ditotal-total kok jadi berasaa yang belum bayarnya, hahaha. Ya menurut nganaa..  
Dari sinilah saya lalu terpaksa belajar untuk lebih attentive terhadap uang kecil. Tentunya bukan soal ngingetin customer aja, tapi juga di sehari-hari. 

And then, there is this one additional thing where, ongkos kirim dari tempat saya tinggal jauuh lebih murah dibanding ongkos kirim ke tempat saya tinggal. Bedanya bisa hampir dua kali lipatnya dong, zzzz. I guess this is universe's conspiracy, untuk memaksa saya jualan online aja, dan bukan (terlalu banyak) belanja online :p. 

Finally, berniaga juga makin menyadarkan bahwa Allah sajalah yang melapangkan dan menyempitkan rejeki. Ada kalanya jumlah pesanan sebanding dengan usaha, lain waktu sebaliknya. Besoknya lagi, yang promo produk yang ini, eh yang dipesen malah yang udah lama ga diiklanin.  
Oh, well.. bagian saya memang hanya ikhtiar dan doa. :) 

Begitulah.. alhamdulillah menemukan kegiatan baru yang menyenangkan. Menyenangkan karena jadi punya hal baru untuk dipelajari :).  

No comments: